![]() |
| Latif Safruddin Pekerja di Dapoer Pegiat Medsos dan IA |
Besok pagi, ritme kehidupan kembali berdenyut lebih cepat. Jalanan yang sempat lengang akan kembali dipenuhi kendaraan, seragam-seragam sekolah mulai berbaris rapi, dan kantor-kantor kembali menyalakan semangat rutinitas. Libur telah usai, dan kehidupan nyata kembali memanggil. Di tengah itu semua, ada satu sosok yang sering luput dari sorotan, namun memegang peran penting: seorang ayah.
Ayah di kota bukan hanya pencari nafkah, tetapi juga “tukang antar jemput”, manajer waktu, sekaligus pembantu serba bisa. Pagi hari dimulai dengan mengantar anak ke sekolah, lalu bergegas ke kantor, sore menjemput kembali, belum lagi membantu kebutuhan rumah tangga. Semua berjalan dalam ritme yang terkadang melelahkan, bahkan terasa seperti tidak ada jeda. Berbeda dengan kehidupan desa yang lebih sederhana dan dekat, di kota segala sesuatu menuntut kecepatan, ketepatan, dan pengorbanan waktu yang tidak sedikit.
Namun dalam pandangan Islam, setiap peran itu bukan sekadar rutinitas duniawi. Ia adalah ladang ibadah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Makna ibadah tidak terbatas pada sholat, puasa, atau dzikir semata. Mengantar anak ke sekolah dengan niat menjaga amanah, bekerja mencari nafkah halal, bahkan membantu istri di rumah—semuanya bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.
Rasulullah ﷺ juga memberikan teladan yang luar biasa. Dalam hadist riwayat Bukhari disebutkan bahwa beliau membantu pekerjaan rumah tangga. Ini menjadi pelajaran penting bahwa menjadi “pembantu serba bisa” dalam keluarga bukanlah kehinaan, melainkan kemuliaan. Justru di situlah letak keutamaan seorang pemimpin keluarga.
Dalam hadist lain, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Seorang ayah adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia bukan hanya bertanggung jawab atas nafkah, tetapi juga pendidikan, keamanan, dan kenyamanan keluarganya. Maka ketika ia bangun lebih pagi untuk mengantar anak, menahan lelah demi memastikan keluarga terpenuhi kebutuhannya, sesungguhnya ia sedang menjalankan amanah besar yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Kehidupan kota memang keras. Waktu terasa sempit, tenaga terkuras, dan pikiran sering kali penuh tekanan. Namun di situlah nilai kesabaran diuji. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)
Menjadi ayah di era modern bukan perkara mudah. Ia harus kuat secara fisik, tangguh secara mental, dan lurus secara spiritual. Di tengah hiruk pikuk dunia, ia tetap dituntut menjaga sholat berjamaah, membimbing anak dengan akhlak, serta menjaga kehalalan rezeki.
Besok, ketika alarm berbunyi lebih pagi, ketika jalanan mulai macet, dan jadwal kembali padat, semoga kita tidak hanya melihatnya sebagai beban. Tapi sebagai kesempatan. Kesempatan untuk beribadah lebih luas, beramal lebih banyak, dan mendekatkan diri kepada Allah melalui peran-peran sederhana yang kita jalani setiap hari.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa sibuk kita menjalani dunia, tetapi seberapa ikhlas kita menjadikannya sebagai jalan menuju ridha-Nya.
![]() |
| Aktifitas kerja dan sekolah kembali lagi setelah libur panjang [gemini IA] |


0 Komentar