SHOLAT BERJAMAAH, TOBAT, DAN MENUNGGU KEPASTIAN KEMATIAN

LATIF SAFRUDDIN
JAMAAH MASJID NUR FALAH SLEMAN YOGYAKARTA


Di kampung ini banyak kita jumpai para pensiunan dari Tentara Nasional Indonesia, Kepolisian Negara Republik Indonesia, pensiunan PNS, BUMN, pensiunan swasta, bahkan yang masih aktif bekerja dan yang tidak memiliki pekerjaan tetap. Semua memiliki waktu dan kesempatan untuk melaksanakan sholat berjamaah tepat waktu di masjid.
Namun kenyataannya, masih ada yang belum tergerak hatinya. Bahkan ada yang hanya datang saat sholat Jumat, seolah cukup untuk menunjukkan identitas keislamannya di hadapan manusia, padahal yang dinilai bukan penampilan lahiriah, tetapi ketaatan dan keikhlasan di hadapan Allah.
Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an:
"Sesungguhnya sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."
(QS. An-Nisa: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa sholat bukan sekadar kewajiban, tetapi kewajiban yang memiliki waktu tertentu dan harus dijaga pelaksanaannya.
Lebih dari itu, Rasulullah Muhammad bersabda:
"Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan bagi laki-laki yang mendengar adzan namun enggan berjamaah tanpa uzur, Rasulullah memberi peringatan keras. Ini menunjukkan betapa pentingnya sholat berjamaah sebagai tanda hidupnya iman.
Bagi para pensiunan, masa tua adalah masa untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan memperbanyak tobat. Jabatan, pangkat, kehormatan, dan kekayaan tidak lagi menjadi bekal ketika kematian datang. Yang dibawa hanyalah amal ibadah.
Allah berfirman:
"Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati."
(QS. Ali Imran: 185)
Kematian adalah kepastian. Tidak ada seorang pun yang bisa menolaknya. Hari ini kita masih mampu berjalan ke masjid, tetapi belum tentu esok kaki ini masih kuat melangkah. Hari ini masih mendengar adzan, tetapi belum tentu besok telinga ini masih mendengar panggilan Allah.
Karena itu, masa pensiun sejatinya bukan masa istirahat dari ibadah, melainkan masa terbaik untuk bertobat dan mendekat kepada Allah. Jangan menunggu sakit, jangan menunggu lemah, jangan menunggu ajal datang baru sadar.
Rasulullah Muhammad bersabda:
"Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."
(HR. Al Hakim)
Maka marilah kita hidupkan masjid dengan sholat berjamaah, ramaikan saf-safnya, dan jadikan masa tua sebagai masa memperbanyak amal saleh. Karena pada akhirnya, semua manusia sedang menunggu giliran menuju kematian.
Jangan sampai ketika ajal tiba, kita menyesal karena selama hidup terlalu sibuk dengan urusan dunia, tetapi lalai memenuhi panggilan Allah.
Semoga Allah memberi kita hati yang lembut untuk bertobat, kaki yang ringan melangkah ke masjid, dan husnul khatimah saat kematian datang menjemput. Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar