![]() |
| LATIF SAFRUDDIN Owner Online Dapur Barokah Founder PT WebDigital Marketing Pegiat Pemberdaaan Masyarakat |
Alhamdulillah, saya menjadi salah satu peserta yang beruntung mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) Content Creator Digital Batch 2 yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. Dari sekitar 80 pendaftar yang mengikuti proses seleksi dan kurasi, hanya 37 peserta yang difasilitasi untuk mengikuti kegiatan ini. Menjadi bagian dari peserta terpilih tentu merupakan sebuah kebanggaan sekaligus pengalaman berharga bagi saya sebagai pegiat media digital dan konten kreator.
Sebelumnya, Dinas Pariwisata DIY telah sukses menyelenggarakan Batch 1 yang menghasilkan banyak konten kreator berkualitas. Bahkan, beberapa alumni batch pertama telah mampu memperoleh penghasilan atau cuan dari aktivitas membuat konten digital secara profesional. Keberhasilan tersebut menjadi motivasi tersendiri bagi kami para peserta Batch 2 untuk belajar lebih serius dan mengembangkan kemampuan dalam dunia konten kreatif.
Selama mengikuti kegiatan dari hari pertama hingga hari ketiga, saya mendapatkan banyak ilmu baru yang membuka wawasan tentang dunia content creator profesional. Para mentor tidak hanya mengajarkan cara membuat video yang menarik, tetapi juga menjelaskan bagaimana membangun identitas diri atau personal branding, memahami algoritma media sosial, membuat strategi konten, hingga cara memonetisasi akun agar dapat menghasilkan pendapatan.
Salah satu hal yang menarik selama pelatihan adalah suasana kelas yang sangat interaktif. Saya termasuk peserta yang aktif bertanya ketika ada materi yang menurut saya belum sesuai dengan pemahaman atau pengalaman yang saya alami di lapangan. Beberapa kali saya mengajukan pertanyaan dan berdiskusi langsung dengan mentor terkait strategi pemasaran dan branding sebuah produk.
Salah satu diskusi yang cukup berkesan bagi saya adalah ketika saya membandingkan keberhasilan produk air minum dalam kemasan seperti Aqua, Le Minerale, dan berbagai merek lainnya. Saya menyampaikan bahwa banyak produk tersebut tidak terlihat aktif membuat konten media sosial yang viral setiap hari, bahkan ada yang akun resminya tidak terlalu menonjol, tetapi produknya tetap laris dan tersedia hampir di setiap warung kelontong. Hampir semua toko menjual produk tersebut dan masyarakat terus mengonsumsinya.
Pertanyaan itu kemudian dijawab oleh salah satu mentor kami, Mbak Tria dan mbak aya, pasangan yang luar biasa dalam menyampaikanya segala hal terkait yang menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan besar tersebut sudah berada pada level yang berbeda. Mereka memiliki sistem pemasaran yang jauh lebih besar, jaringan distribusi yang kuat, serta anggaran promosi yang tidak sedikit. Menurut beliau, strategi mereka tidak bisa disamakan dengan content creator pemula atau UMKM yang sedang membangun audiens. "Mas, mereka sudah bukan level kita lagi. Cara marketing mereka berbeda karena skala bisnis dan kekuatan brand mereka sudah sangat besar," kurang lebih demikian penjelasan yang disampaikan saat itu.
Penjelasan tersebut membuat saya memahami bahwa sebagai content creator, fokus utama kami bukanlah membandingkan diri dengan perusahaan raksasa, tetapi bagaimana membangun kepercayaan audiens melalui konten yang konsisten dan relevan.
Selain materi mengenai konten digital, kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari unsur legislatif. Salah satu anggota Komisi A DPRD DIY menekankan pentingnya pelestarian budaya melalui media digital. Beliau mengingatkan tentang Peraturan Daerah DIY Nomor 14 tentang Pemajuan dan Pelestarian Kebudayaan DIY yang memiliki 14 pilar kebudayaan.
Pesan yang sangat saya ingat adalah bahwa para content creator Yogyakarta memiliki tanggung jawab moral untuk ikut mengenalkan jati diri Yogyakarta kepada dunia. Konten yang dibuat tidak hanya mengejar viralitas semata, tetapi juga mampu menjadi media edukasi dan promosi budaya, tradisi, kearifan lokal, destinasi wisata, kuliner, seni, dan berbagai kekayaan budaya yang dimiliki Daerah Istimewa Yogyakarta.
Menurut beliau, jika seluruh content creator di Yogyakarta secara konsisten mengangkat potensi budaya dan wisata daerahnya, maka dunia akan semakin mengenal Yogyakarta bukan hanya sebagai kota wisata, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan yang hidup dan terus berkembang.
Materi yang paling membekas bagi saya adalah saat para mentor membedah akun TikTok peserta satu per satu. Dari sesi tersebut kami belajar bahwa untuk mendapatkan penghasilan dari media sosial tidak cukup hanya membuat video yang bagus. Yang lebih penting adalah membangun akun yang memiliki identitas yang jelas.
Mbak Tya berulang kali menekankan bahwa percuma memiliki banyak video jika akun kita tidak memiliki arah dan personal branding yang kuat. Banyak orang membuat konten secara acak tanpa tema yang jelas. Hari ini membahas kuliner, besok politik, lusa hiburan, kemudian berpindah lagi ke topik lain tanpa konsistensi.
Beliau menjelaskan bahwa audiens, perusahaan, maupun calon klien akan melihat sejauh mana konsistensi seorang content creator. Mereka akan menilai apakah akun tersebut memiliki fokus yang jelas, jadwal unggahan yang teratur, kualitas konten yang stabil, dan identitas yang kuat.
Jika seseorang dikenal sebagai kreator wisata, maka ia harus konsisten di bidang wisata. Jika dikenal sebagai kreator budaya, maka ia harus terus mengembangkan konten budaya. Dari situlah kepercayaan akan tumbuh. Ketika kepercayaan sudah terbentuk, peluang kerja sama dengan berbagai pihak akan datang dengan sendirinya.
Yang membuat saya semakin optimis adalah pesan para mentor bahwa kesempatan sukses di dunia digital terbuka untuk siapa saja. Tidak peduli usia, latar belakang pendidikan, kondisi fisik, maupun status sosial. Anak muda bisa sukses menjadi content creator. Orang tua juga bisa sukses. Penyandang disabilitas pun memiliki kesempatan yang sama selama mampu menghadirkan konten yang bermanfaat, konsisten, dan memiliki nilai bagi audiens.
Bimtek ini memberikan pemahaman bahwa kesuksesan di dunia digital bukan semata-mata karena keberuntungan, tetapi merupakan hasil dari proses belajar, disiplin, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkembang. Konten yang baik akan menemukan audiensnya. Akun yang dikelola dengan serius akan menemukan peluangnya. Dan kreator yang terus belajar akan menemukan jalannya menuju kesuksesan.
Saya sangat bersyukur dapat mengikuti Bimbingan Teknis Content Creator Digital Batch 2 ini. Selain mendapatkan ilmu dan pengalaman baru, saya juga bertemu dengan banyak peserta hebat dari berbagai latar belakang yang memiliki semangat yang sama untuk berkembang di dunia ekonomi kreatif.
Semoga ilmu yang telah diberikan oleh Dinas Pariwisata DIY dan para mentor dapat menjadi bekal bagi kami semua untuk terus berkarya, mempromosikan budaya dan pariwisata Yogyakarta, serta menghasilkan konten-konten yang kreatif, inspiratif, edukatif, dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat luas. Dengan semangat tersebut, saya yakin para peserta Bimtek Content Creator Digital Batch 2 akan mampu menjadi bagian dari generasi kreatif yang mengharumkan nama Yogyakarta melalui karya-karya digital yang mendunia.

0 Komentar