![]() |
| Dalam musdes harus pegang mic untuk jadi pembawa acara |
Hampir lima belas tahun menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) bukanlah waktu yang singkat. Jika dianalogikan dengan buah, maka bukan lagi sekadar matang, tetapi sudah seharusnya berani jatuh dan memberi manfaat. Di titik inilah saya berdiri hari ini, memaknai perjalanan panjang sebagai BPD bukan hanya sebagai jabatan, tetapi sebagai jalan hidup yang penuh ujian, tekanan, sekaligus pembelajaran tentang kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab.
Menjadi BPD bagi saya sejak awal bukanlah soal popularitas atau ambisi jabatan. Justru semuanya dimulai dari dorongan warga. Saat pertama kali mencalonkan diri, prosesnya sederhana namun penuh makna. Waktu itu kandidat hanya dua orang, dan saya tetap “ngotot” agar dilakukan pemilihan secara terbuka dan langsung oleh warga. Bagi saya, legitimasi dari rakyat adalah fondasi moral yang tidak boleh ditawar. Hasilnya, saya terpilih untuk mewakili salah satu dukuh menuju tingkat desa.
Di tingkat desa, proses pemilihan kembali dilakukan, melibatkan Kepala Dusun 1 dan Kepala Dusun 2. Kembali warga memberikan amanah, dan saya terpilih menjadi anggota BPD Desa Sumberejo. Sejak saat itulah perjalanan panjang dimulai. Rapat koordinasi pertama, penyusunan tata tertib, hingga pembagian peran dalam tubuh BPD menjadi pengalaman awal yang membentuk karakter.
Dalam tradisi yang berkembang waktu itu, yang dianggap “tua” secara usia dan pengalaman diarahkan menjadi ketua, sementara yang lebih muda menjadi sekretaris. Maka jadilah saya sekretaris BPD. Padahal, jujur saja, sejak awal hati kecil saya ingin menjadi ketua, bukan karena jabatan, tetapi karena ingin menjadi penggerak perubahan dan kemajuan desa. Namun saya percaya, posisi apa pun jika dijalani dengan sungguh-sungguh tetap bisa memberi dampak.
Sebagai sekretaris BPD, saya memilih jalan yang tidak mudah: kritis, vokal, dan konsisten pada aturan. Saya percaya bahwa BPD bukanlah stempel pemerintah desa, bukan pula penonton kebijakan. BPD adalah penjaga moral, pengawas, dan penyeimbang. Konsekuensinya jelas: tidak semua orang nyaman dengan sikap seperti itu.
![]() |
| Bersama sama kita sukseskan program pusat untuk desa sumberejo |
Saya pernah berada di titik paling tidak menyenangkan dalam perjalanan ini. Ada upaya untuk “menyingkirkan” saya, bahkan sampai muncul wacana mengganti KTP domisili saya. Alasannya bukan karena saya salah, tetapi karena saya terlalu sering protes, terlalu kritis, dan terlalu berani membuka hal-hal yang dianggap “tidak elok” oleh sebagian pihak. Saya menjadi orang yang tidak disukai karena berani bertanya, berani mengingatkan, dan berani mengatakan bahwa sesuatu itu tidak sesuai aturan.
Fenomena ini membuka mata saya bahwa keterbukaan, kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab memang tidak pernah mudah. Orang yang nyaman dengan praktik-praktik lama akan merasa terganggu ketika ada yang berani mengusik. Apalagi jika yang diusik adalah kebiasaan buruk, penyimpangan, atau zona aman yang selama ini terlindungi.
Namun saya percaya satu hal: jika kita bergerak bersama, satu suara, satu visi, dan satu keberanian, maka kedzaliman di desa bisa didobrak. Kebenaran mungkin ditekan, tetapi tidak pernah benar-benar bisa dimatikan. Prinsip inilah yang terus saya pegang selama bertahun-tahun.
Perjalanan saya tidak berhenti di tingkat desa. Di Forum BPD Kabupaten Klaten, saya pernah melakukan apa yang banyak orang sebut sebagai “dobrakan”. Saya menyuarakan gagasan, membuka fakta, dan mengajak forum untuk lebih melek media, lebih transparan, dan lebih berani menyuarakan kepentingan desa. Saat itu saya juga dipercaya sebagai bagian dari tim media forum, dan semua saya kerjakan dengan profesional, jujur, dan total.
![]() |
| agenda 2 bulanan rutin forum bpd kecamatan klaten selatan |
Namun konsekuensi kembali datang. Ketika gagasan terlalu maju, ketika kejujuran terlalu terang, dan ketika kritik terlalu tajam, organisasi yang belum mapan secara intelektual, kritis, dan kreatif sering kali memilih jalan pintas: menyingkirkan yang berbeda. Saya mengalami itu. Dengan berbagai alasan, saya disisihkan. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu vokal dan terlalu jujur.
Inilah ironi organisasi: bukan yang paling benar yang bertahan, tetapi yang paling nyaman dengan kekuasaan. Mereka yang tidak melek media, tidak siap dengan keterbukaan, dan tidak sanggup beradu gagasan sering kali merasa terancam oleh orang-orang yang kritis dan berani.
Saya juga kehilangan sosok penting dalam perjalanan ini. Sosok yang sejalan, sefrekuensi, dan sepemikiran. Namun saya percaya, Allah memiliki rencana lain. Setiap kehilangan adalah penguat, bukan pelemah. Saya terus melangkah, hingga akhirnya kembali dipercaya dan didapuk sebagai Sekretaris Jenderal Forum BPD Kecamatan.
Dari seluruh perjalanan ini, saya menarik satu kesimpulan besar: menjadi BPD tidak cukup hanya pintar administrasi. BPD harus kritis, itu wajib. Bertanggung jawab, itu harga mati. Kreatif, itu keharusan. Dan yang paling penting, harus ada aksi nyata, bukan hanya rapat dan tanda tangan.
Hampir 15 tahun menjadi BPD mengajarkan saya bahwa keberanian adalah mata uang termahal dalam pemerintahan desa. Tanpa keberanian, aturan hanya jadi tulisan. Tanpa kejujuran, lembaga hanya jadi simbol. Dan tanpa kebersamaan, perubahan hanya jadi wacana.
Saya tidak sempurna. Saya punya kekurangan. Tapi saya tidak pernah malu menjadi orang yang kritis dan vokal. Karena desa yang baik tidak lahir dari diam, melainkan dari keberanian orang-orang yang mau bersuara demi kebaikan bersama.
Inilah kisah saya. Bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk diingat: bahwa mengabdi dengan jujur memang berat, tetapi jauh lebih bermartabat.





0 Komentar