![]() |
| SEKOLAHAN SAYA WAKTU DI SMP YAITU SMP NEGERI 01 KELING [FOTO DARI GOOGLEMAP] |
Pagi itu di Keling, udara terasa lebih dingin dari biasanya, namun tekad di kepala saya sudah bulat. Saya berdiri di depan Ibu, menatap lekat-lekat jemari beliau yang sedang menghitung koin. "Dua ratus rupiah, Bu. Kalau tidak ada, Latif tidak berangkat sekolah," ucap saya dengan nada yang sulit dibantah. Bukan karena saya anak manja yang haus kemewahan, tapi karena realita jarak antara rumah dan SMPN 01 Keling adalah sebuah perjalanan antar-desa yang panjang. Seratus rupiah adalah harga mati untuk ongkos angkot pulang-pergi, dan seratus rupiah sisanya adalah martabat saya di jam istirahat. Tanpa itu, sekolah yang jauh di desa seberang terasa seperti perjalanan ke ujung dunia yang melelahkan.
Sebenarnya, tidak ada alasan bagi saya untuk bolos. Takdir menempatkan saya pada posisi yang unik sekaligus "terjepit". Tepat di sebelah rumah saya, tinggal seorang guru matematika asal Boyolali yang mengajar di SMP tersebut. Beliau merantau ke Keling dan kebetulan menjadi tetangga dekat. Maka, tak ada ruang untuk sandiwara; jika beliau sudah menyalakan motor atau bersiap berangkat, saya pun harus sudah rapi dengan seragam putih-biru saya. Keberadaan beliau pula yang membuat saya "terpaksa" masuk ke SMP tersebut, meski awalnya tanpa rencana besar.
Namun, siapa sangka paksaan itu menjadi berkah luar biasa. SMPN 01 Keling saat itu adalah satu-satunya SMP negeri di kecamatan, sebuah kawah candradimuka bagi ribuan remaja dari berbagai penjuru desa. Angkatan saya saja sampai meledak menjadi empat kelas, di mana setiap kelasnya disesaki oleh 40 hingga 50 murid. Di sana, saya menemukan semesta yang luas. Meski di dalam kelas saya tidak terlalu menonjol dalam urusan akademik—apalagi jika harus berhadapan dengan rumus-rumus rumit di papan tulis—saya menemukan panggung saya sendiri di luar jam pelajaran.
Saya melahap semua kegiatan ekstra kurikuler yang ada. Dari Pramuka yang mengajarkan ketangguhan, PMR yang mengasah empati, hingga OSIS yang membuka jaringan pergaulan saya ke desa-desa tetangga. Saya bukan lagi sekadar Latif si anak tetangga guru matematika, melainkan Latif yang mengenal hampir setiap sudut kecamatan. Namun, di tengah riuh rendah organisasi dan banyaknya teman, hati saya justru tertambat secara rahasia pada seorang adik kelas bernama Ira, gadis manis dari desa yang sama dengan saya, Keling.
![]() |
| LOKASI DI JALAN RAYA KELING JEPARA NAMPAK DARI DEPAN SMP NEGERI 01 KELING [POTO DARI GOOGLEMAP] |
Waktu itu, perasaan saya hanyalah "cinta monyet" yang terkunci rapat. Berstatus sebagai siswa biasa saja, saya tidak punya cukup nyali untuk mengungkapkan rasa. Ira terasa seperti bintang yang bersinar di kejauhan; saya mengenalnya, tapi tidak berani meraihnya. Dia pun sepertinya tak pernah menghiraukan keberadaan saya yang mondar-mandir di kantor OSIS. Rasa itu menguap seiring kelulusan, tertutup oleh debu jalanan Keling yang perlahan saya tinggalkan untuk mengejar pendidikan yang lebih tinggi.
Tahun demi tahun berganti, hingga saya tiba di semester enam masa perkuliahan di Semarang. Di kota Atlas itulah, takdir memainkan skenario yang paling romantis. Saya sedang disibukkan dengan urusan skripsi, melakukan penelitian dan mencari data di kantor koran Suara Merdeka. Di tengah hiruk-pikuk kota besar itu, secara tidak sengaja saya bertemu kembali dengan Ira. Dia bukan lagi adik kelas yang pemalu, melainkan seorang mahasiswi kesehatan militer dengan pembawaan yang tegap dan disiplin.
Pertemuan tak terduga itu menghidupkan kembali bara lama yang sempat padam. Keberanian yang dulu tidak saya miliki saat berseragam SMP, kini muncul karena kedewasaan. Kami mulai menjalin komunikasi, berbagi cerita tentang masa-masa di Keling, hingga akhirnya resmi berpacaran. Selama enam bulan, Semarang menjadi saksi perjalanan cinta kami. Setiap kali saya menuntaskan bab-bab skripsi saya di meja redaksi, bayangan Ira menjadi penyemangat tersendiri. Meski hubungan itu akhirnya harus berjalan di jalurnya masing-masing setelah enam bulan yang indah, ada rasa syukur yang mendalam. Ternyata, anak laki-laki yang dulu meributkan uang saku dua ratus rupiah itu akhirnya berhasil memenangkan hati gadis impiannya, membuktikan bahwa perjalanan jauh dari satu desa ke desa lain di masa SMP tidaklah sia-sia. Semua itu adalah rangkaian cerita yang membentuk saya hari ini, sebuah narasi panjang tentang perjuangan, kerja keras, dan keberanian untuk mencintai.
![]() |
| SETIAP HARI HARUS MENUNGGU ANGKUTAN DISINI UNTUK PULANG KERUMAH [POTO DARI GOOGLEMAP] |



0 Komentar