![]() |
| Di Tanah ini Saya dilahirkan tepatnya RT 25 Kelet Jepara bukan dirumah ini karena sudah jadi pemilik orang lain |
Takdir yang Mendahului Lahir
Ada sebuah kerinduan yang tak berpangkal dalam hidupku. Saat jemari kecilku mulai terbentuk di rahim Ibu, tepat di usia kandungan tiga bulan, Tuhan memanggil Ayah pulang. Aku lahir ke dunia tanpa pernah mengenal aroma pakaiannya, tanpa pernah merasakan kasar telapak tangannya saat mengusap kepalaku, dan tanpa sosok yang biasanya menjadi tempat seorang anak lelaki bercermin. Bagiku, Ayah adalah sebuah nama dalam doa, sebuah bayang yang tak sempat menyentuh raga, namun jejaknya terasa di setiap sudut rumah kami di RT 25, Desa Kelet.
Kelet: Desa yang Menjadi "Ayah" Bagiku
Kehilangan figur ayah sejak dalam kandungan tidak lantas membuat duniaku menjadi gelap. Tuhan menggantikan sosok itu dengan kasih sayang yang melimpah dari Ibu dan kakak-kakakku. Mereka adalah pilar-pilar kokoh yang menahan beban hidup agar aku tetap bisa tumbuh tegak.
Tak hanya keluarga, RT 25 adalah saksi bisu betapa indahnya persaudaraan di desa. Aku adalah anak yang diasuh oleh lingkungan. Tetangga-tetangga bukan sekadar orang asing yang tinggal di dekat rumah; mereka adalah tangan-tangan yang ikut menyuapiku, mata-mata yang menjagaku saat aku bermain di halaman, dan hati yang ikut mendoakanku. Di sini, aku belajar bahwa keluarga tidak selalu soal pertalian darah, tapi soal siapa yang ada saat kita butuh sandaran.
Ritme Harian: Ploso dan Langgar yang Mengakar
Masa kecilku adalah rute yang tetap namun penuh makna. Setiap pagi, aku melangkahkan kaki menuju TK dan MI di Ploso, Kelet. Di sanalah aku mulai mengenal dunia, belajar mengeja, dan berteman dengan alam desa yang asri. Pendidikan di MI Ploso menanamkan nilai-nilai dasar yang membentuk karakterku hari ini.
Namun, pusat gravitasiku yang paling utama adalah mushola atau langgar yang berdiri tepat di sebelah rumah. Langgar itu bukan sekadar bangunan kayu atau tembok tua, melainkan sekolah kehidupanku yang kedua. Di sana:
* Aku belajar melantunkan ayat-ayat suci.
* Mendengarkan nasihat-nasihat bijak dari para sesepuh desa.
* Menghabiskan waktu setelah maghrib untuk belajar tentang adab dan tata krama.
Suara pujian-pujian sebelum shalat berjamaah di langgar itu adalah melodi yang menenangkan jiwaku, mengingatkanku bahwa meski aku tak memiliki ayah di bumi, aku memiliki Tuhan yang selalu menjaga di setiap langkah.
Penutup: Warisan yang Tak Terlihat
Aku mungkin tumbuh tanpa asuhan tangan seorang pria yang kupanggil "Bapak". Namun, melalui ketabahan Ibu, bimbingan kakak-kakak, dan kehangatan warga Desa Kelet, aku mengerti bahwa hidup ini tetap indah untuk dijalani. Setiap sudut RT 25 dan setiap jengkal tanah di Ploso telah membentukku menjadi pribadi yang menghargai kebersamaan dan ketulusan.
"Meski ia tak pernah menyentuhku, cintanya mengalir melalui doa-doa ibu dan kebaikan tetangga yang tak pernah putus."
![]() |
| BOK/Bangunan yang ada di jembatan kecil ini jadi saksi bisu saya tumbuh kembang jadi dewasa |


0 Komentar