
FLY OVER KOPO BANDUNG JAWA BARAT
Antara Debu Kopo dan Almamater yang Terlambat
Ijazah SMK Muhammadiyah Keling itu tergeletak bisu di atas meja kayu yang sudah mulai lapuk. Bagiku, lembaran kertas itu bukan sekadar bukti kelulusan, melainkan surat putusan yang mematikan mimpi. Di ruang tengah yang sunyi, aku menatap punggung Ibu yang nampak kian membungkuk. Tanpa perlu kata-kata, aku paham bahwa tetes keringatnya sudah mencapai batas. Kuliah adalah sebuah kemewahan yang terlalu tinggi untuk dipanjat oleh keadaan ekonomi kami.
Malam itu, harapan yang selama ini kupelihara—tentang bangku kuliah dan masa depan yang cerah—seolah layu sebelum sempat mekar. Dengan hati yang berat dan tekad yang nekat, aku memutuskan untuk pergi. Aku harus lari. Bukan karena membenci rumah, tapi karena aku tidak sanggup melihat wajah kecewa Ibu setiap kali aku membicarakan cita-cita.
Bandung menjadi pelarianku. Bude di sana memberikan secercah harapan: sebuah pekerjaan di gerai Texas Chicken di Jalan Kopo. Kebetulan, Om adalah salah satu kepala toko di sana. Aku membayangkan diriku mengenakan seragam, melayani pelanggan, dan mengirimkan uang ke desa setiap bulan. Setidaknya, jika aku tidak bisa menjadi sarjana, aku harus bisa menjadi tulang punggung.
Namun, realita di Jalan Kopo tidak semanis bayanganku.
Enam bulan lamanya aku menetap di kota kembang itu. Alih-alih kesibukan bekerja, yang kudapatkan hanyalah penantian yang mencekik leher. Setiap pagi aku terbangun oleh deru mesin kendaraan di sepanjang jalur Kopo yang padat dan berdebu. Aku sering berdiri di pinggir jalan, menatap Flyover Kopo yang menjulang tinggi, merasa sekecil semut di tengah hiruk-pikuk kota yang asing. Harapanku untuk bekerja tak kunjung menunjukkan titik terang. Om selalu bilang "sabar" dan "tunggu prosesnya", tapi perut dan harga diriku tidak bisa diajak kompromi.
Aku merasa menjadi beban. Di Bandung aku terasing, di kampung halaman aku merasa gagal. Aku berada di titik nadir, di mana doa-doaku mulai terasa tawar. Aku mulai percaya bahwa garis hidupku memang hanya untuk menjadi penonton bagi kesuksesan orang lain.
Hingga suatu sore, ketika langit Bandung mulai meredup tertutup awan mendung, ponsel di sakuku bergetar hebat. Sebuah panggilan dari Mas Maarif, kakak pertamaku.
"Halo, Mas?" suaraku terdengar lelah, nyaris tanpa sisa energi.
"Pulanglah ke Solo besok," suaranya terdengar sangat tenang, namun memiliki otoritas yang tidak bisa dibantah.
"Pulang? Mas, aku masih nunggu kabar kerjaan di Texas. Kalau aku pulang sekarang, sia-sia enam bulan aku di sini," jawabku dengan nada putus asa yang tertahan.
Ada jeda sejenak di seberang telepon. "Buat apa nunggu yang belum pasti? Kamu sudah terdaftar jadi mahasiswa Ekonomi Manajemen di UMS (Universitas Muhammadiyah Surakarta). Kuliahmu akan segera dimulai."
Aku tertegun. Jantungku serasa berhenti berdetak sesaat. "Maksud Mas apa? Daftar? Ujian saja aku tidak ikut. Uangnya dari mana, Mas?"
Aku tahu Mas Maarif adalah seorang dosen di Fakultas Agama UMS. Dia adalah sosok yang disegani, namun aku tidak pernah menyangka dia akan bertindak sejauh ini tanpa sepengetahuanku.
"Tak perlu kau pusingkan bagaimana caranya. Aku sudah mengurus semuanya. Tugasmu hanya satu: pulang, bawa barang-barangmu, dan belajar yang benar. Kamu tidak boleh menyerah pada keadaan hanya karena tidak punya biaya di awal. Sekarang, kamu punya kesempatan itu."
Aku menutup telepon dengan tangan yang gemetar. Air mata yang selama enam bulan ini kutahan di perantauan, tumpah begitu saja di trotoar Jalan Kopo yang berdebu. Orang-orang berlalu lalang tanpa peduli, namun bagiku, dunia baru saja berganti warna.
Bayangan flyover yang tadi nampak angkuh, kini seolah menjadi saksi bisu bahwa perjalananku di Bandung bukanlah kegagalan, melainkan sebuah masa tunggu sebelum takdir menjemputku kembali ke Solo. Putus asa yang sempat mencengkeram erat, kini luruh digantikan getaran semangat yang luar biasa.
Aku akan pulang. Bukan sebagai pecundang yang gagal mencari kerja, tapi sebagai seorang mahasiswa yang membawa harapan baru untuk Ibu. Kopo mungkin memberiku ketidakpastian, tapi Mas Maarif memberiku kunci menuju masa depan yang sempat kupikir telah hilang selamanya.
0 Komentar