
SHOLAT IDUL FITRI DIHALAMAN FAKULTAS HUKUM UII
Di bawah langit pagi yang teduh di halaman kampus , gema takbir Idul Fitri 1447 H mengalun syahdu. Barisan jamaah duduk bersimpuh, menundukkan kepala, seolah membawa seluruh beban dunia untuk dilebur dalam satu doa: kembali kepada fitrah.
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd…
Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum evaluasi peradaban. Kita bertanya jujur pada diri sendiri: setelah Ramadhan berlalu, apakah kita benar-benar berubah? Ataukah hanya berpindah dari masjid yang penuh menjadi kehidupan lama yang kosong dari nilai?
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini menampar kesadaran kita. Bahwa kemunduran bukan semata karena sistem, politik, atau ekonomi—tetapi karena krisis nilai dalam diri manusia. Peradaban besar tidak dibangun hanya dengan teknologi, tetapi dengan iman, ilmu, dan akhlak.
Hari ini, kita hidup di zaman di mana ilmu umum dan teknologi berkembang pesat. Namun ironisnya, banyak yang tercerabut dari nilai syariah. Akibatnya:
- Bisnis masih diwarnai riba, padahal Allah tegas mengingatkan dalam QS. Al-Baqarah: 275 bahwa riba adalah jalan kehancuran.
- Korupsi merajalela, seolah amanah hanyalah slogan, padahal Nabi ﷺ bersabda: “Tidak beriman orang yang tidak amanah.” (HR. Ahmad)
- Politik kehilangan adab, padahal dalam Islam, kepemimpinan adalah tanggung jawab, bukan alat kekuasaan.
Inilah tanda bahwa kita sedang kalah—not by power, but by loss of moral compass.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Artinya, inti peradaban Islam adalah akhlak. Jika akhlak runtuh, maka runtuhlah peradaban, meskipun gedung-gedung menjulang tinggi.
Sholat Idul Fitri yang kita lakukan hari ini bukan sekadar ritual. Ia adalah simbol kemenangan. Tapi kemenangan seperti apa?
Bukan kemenangan karena membeli baju baru.
Bukan kemenangan karena makanan melimpah.
Namun kemenangan sejati adalah ketika:
- Hati menjadi lebih bersih
- Lisan lebih terjaga
- Tangan lebih jujur
- Pikiran lebih adil
Jika setelah lebaran kita masih sama—masih terjebak dalam riba, masih lalai dalam amanah, masih keras dalam kekuasaan—maka sejatinya kita belum benar-benar kembali ke fitrah.
Peradaban Islam yang agung dahulu lahir dari keseimbangan:
- Ilmu syariah sebagai pondasi nilai
- Ilmu umum dan teknologi sebagai alat kemajuan
Keduanya tidak boleh dipisahkan. Tanpa syariah, teknologi menjadi liar. Tanpa ilmu dunia, umat menjadi lemah.
Maka dari mimbar Idul Fitri ini, ada seruan yang harus kita bawa pulang:
👉 Jadikan lebaran sebagai titik balik, bukan titik selesai
👉 Bangun peradaban dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat
👉 Kembalikan nilai Islam dalam ekonomi, politik, dan kehidupan sosial
Karena keadilan tidak akan lahir dari hukum semata, tetapi dari manusia yang bertakwa.
Allah ﷻ berfirman:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Akhirnya, kita sadar…
Bahwa perubahan besar tidak dimulai dari istana,
tetapi dari sajadah.
Dari sujud yang panjang,
dari hati yang tunduk,
dari niat yang lurus karena Allah.
Selamat Idul Fitri 1447 H
Taqabbalallahu minna wa minkum
Semoga kita tidak hanya kembali suci, tetapi juga menjadi bagian dari kebangkitan peradaban Islam yang beradab, berilmu, dan berkeadilan.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh




0 Komentar