Allāhu akbar, Allāhu akbar, lā ilāha illallāhu wallāhu akbar, Allāhu akbar wa lillāhil-ḥamd…

 



Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan hari kemenangan, Idul Fitri 1447 H, hari kembali kepada fitrah, hari di mana hati dibersihkan, jiwa ditundukkan, dan iman diteguhkan.

Dalam dinamika umat Islam di Indonesia, penetapan hari raya seringkali menjadi perbincangan. Namun bagi warga , keputusan tentang waktu Idul Fitri bukan sekadar penentuan tanggal, melainkan buah dari ijtihad ilmiah yang dilandasi Al-Qur’an, Hadis, dan pendekatan ilmu falak (hisab) yang matang. Ketegasan ini bukan bentuk keras kepala, melainkan bentuk keyakinan yang lahir dari ilmu dan tanggung jawab ibadah.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
"Fas’alū ahlaż-żikri in kuntum lā ta‘lamūn"
(Tanyakanlah kepada orang yang berilmu jika kamu tidak mengetahui) — (QS. An-Nahl: 43)

Ayat ini menjadi dasar bahwa dalam urusan ibadah, termasuk penentuan waktu, umat diperintahkan untuk merujuk pada orang-orang yang ahli dan memiliki ilmu. Muhammadiyah mengambil peran itu melalui metode hisab yang konsisten dan transparan. Ini sejalan dengan semangat Islam yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.

Rasulullah SAW juga bersabda:
"Berpuasalah kalian karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini dipahami oleh para ulama dalam berbagai pendekatan, baik rukyat (melihat langsung) maupun hisab (perhitungan astronomi). Muhammadiyah memilih hisab sebagai bentuk pemanfaatan ilmu modern tanpa meninggalkan ruh syariat. Ini adalah bentuk ijtihad yang sah dalam Islam, selama berlandaskan dalil dan keilmuan.

Yang menarik, ketegasan ini tidak diiringi dengan kegaduhan. Warga Muhammadiyah dikenal tenang, tidak berisik, tidak huru-hara, dan tidak berlebihan dalam menyikapi perbedaan. Mereka memahami bahwa Idul Fitri bukan sekadar momentum euforia, tetapi lebih kepada penguatan ibadah, terutama shalat berjamaah dan ketakwaan.

Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa" (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka ukuran keberhasilan Ramadhan dan Idul Fitri bukanlah seberapa ramai perayaannya, tetapi seberapa dalam ketakwaan yang tertanam. Dalam hal ini, sikap warga Muhammadiyah yang sederhana, tidak mencolok, dan fokus pada ibadah justru mencerminkan nilai Islam yang hakiki.

Di tengah masyarakat yang kadang mengukur sesuatu dari keramaian dan popularitas, sikap “tidak ramai” ini sering disalahpahami. Padahal justru di situlah letak keindahannya: ibadah yang sunyi namun penuh makna, keyakinan yang kokoh tanpa perlu banyak suara.

Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, yang merasa cukup, dan tersembunyi (tidak mencari popularitas)" (HR. Muslim)

Inilah potret keislaman yang dewasa: tidak mudah terpengaruh, tidak mudah terseret opini, dan tetap teguh dalam keyakinan yang didasarkan pada ilmu. Perbedaan dalam penentuan hari raya bukanlah alasan untuk berpecah, melainkan ruang untuk saling menghargai dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Akhirnya, Idul Fitri adalah tentang kembali—kembali kepada fitrah, kembali kepada keikhlasan, dan kembali kepada Allah SWT. Apapun metode yang digunakan, selama itu berlandaskan Al-Qur’an dan Hadis, maka itulah jalan yang harus dihormati.

Allāhu akbar walillāhil-ḥamd…
Semoga kita semua termasuk hamba yang diterima amalnya, diampuni dosanya, dan diteguhkan dalam ketakwaan. 🤲




Posting Komentar

0 Komentar