
LATIF SAFRUDDIN
OWNER DAPUR BAROKAH
PEGIAT PEMBERDAYAAN DESA
Siang itu, panas yang berikan kehangatan serta masih banyak burung emprit yang menggantung di ujung daun padi. Jalan beton desa yang membelah hamparan sawah menjadi saksi bisu pertemuan tiga orang dengan latar belakang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama: membangun masa depan desa yang lebih bermartabat.
Di depan sebuah bangunan sederhana bertuliskan “Penggilingan Padi – Jual Beras”, berdirilah tiga sosok: Danang, Kepala Desa Pundungan yang dikenal sederhana namun visioner; Arif Giyanto, CEO Pandiva Media yang tajam melihat peluang dan narasi; serta Kang Widhi, seorang jurnalis yang terbiasa merangkai fakta menjadi cerita yang menggugah.
Pertemuan itu bukan sekadar silaturahmi. Ia adalah ruang berbagi, ruang evaluasi, sekaligus ruang merancang masa depan.
![]() |
| Dalam Foto Danang Kepala Desa Pundungan Arif Giyanto CEO Pandiva Media Widhi Jurnalis |
Desa sebagai Pusat Peradaban Kecil
Danang memulai percakapan dengan senyum hangat. Baginya, desa bukan sekadar wilayah administratif, melainkan pusat peradaban kecil yang harus hidup, bergerak, dan berkembang.
“Menjadi kepala desa itu bukan soal jabatan,” ujarnya pelan. “Tapi soal tanggung jawab sejarah.”
Selama masa kepemimpinannya, Pundungan tidak berjalan tanpa arah. Banyak capaian yang telah dirintis—mulai dari pembangunan gedung serbaguna sebagai pusat kegiatan warga, kios desa untuk menggerakkan ekonomi lokal, hingga TP3R (Tempat Pengelolaan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) yang menjadi simbol kesadaran lingkungan.
Tak berhenti di situ, sektor peternakan juga mulai digerakkan melalui kandang sapi komunal, yang tidak hanya meningkatkan ekonomi warga, tetapi juga memperkuat gotong royong. Sementara itu, penggilingan padi desa menjadi tulang punggung kemandirian pangan—mengolah hasil sawah sendiri, untuk kebutuhan sendiri.
Namun Danang tidak menutup mata. Ia menyadari masih banyak yang belum sempurna.
“Kita ini baru mulai,” katanya. “Masih banyak mimpi yang harus diwujudkan.”
Gagasan Besar dari Tanah yang Sederhana
Arif Giyanto mengangguk-angguk, mencatat setiap detail. Baginya, ini bukan sekadar cerita desa—ini adalah potensi besar yang bisa menjadi model nasional.
“Yang menarik,” kata Arif, “bukan hanya apa yang sudah dibangun, tapi cara berpikirnya.”
Danang lalu menjelaskan tentang gagasan pertanian terpadu—sebuah sistem yang menghubungkan sawah, peternakan, dan pengelolaan limbah dalam satu siklus berkelanjutan. Kotoran ternak menjadi pupuk, hasil panen kembali menghidupi ternak, dan semuanya terintegrasi.
Tak hanya itu, muncul pula ide unik: jalan tol sawah.
Bukan jalan tol seperti di kota, melainkan jalur akses yang memudahkan petani menuju lahan, sekaligus bisa difungsikan sebagai jogging track bagi warga. Sebuah konsep yang memadukan produktivitas dan kesehatan.
“Kita ingin sawah bukan hanya tempat kerja,” ujar Danang, “tapi juga ruang hidup.”
Kang Widhi tersenyum. Ia tahu, ide seperti ini jarang muncul jika tidak lahir dari kedekatan dengan realitas.
Pendidikan, Perempuan, dan Masa Depan
Percakapan kemudian mengalir pada isu yang lebih dalam: manusia.
Danang menekankan pentingnya ruang belajar bagi anak-anak desa. Ia ingin anak-anak tidak hanya mengenal buku, tetapi juga memahami kehidupan—belajar dari alam, dari sawah, dari proses.
“Kita ingin mereka bangga jadi anak desa,” katanya.
Tak kalah penting adalah pemberdayaan perempuan. Dalam banyak program desa, perempuan dilibatkan aktif—mulai dari pengelolaan UMKM, produksi pangan, hingga penguatan ekonomi keluarga.
Arif melihat ini sebagai fondasi penting.
“Kalau perempuan bergerak, desa pasti kuat,” ujarnya.
Selain itu, ada juga upaya menghadirkan kebutuhan pokok murah bagi warga melalui pengelolaan oleh BUMDes. Semua dilakukan dengan satu prinsip utama: berbasis data.
Data sebagai Nafas Pembangunan
Di sinilah letak kekuatan Pundungan yang sesungguhnya.
Selama ini, desa tidak berjalan sendiri. Ada pendampingan dari berbagai lembaga seperti SPEK-HAM, Gita Pertiwi, dan LPTP Surakarta. Mereka membantu membangun sistem data yang rapi, akurat, dan berkelanjutan.
“Data itu seperti kompas,” kata Danang. “Kalau kita tidak punya data, kita seperti berjalan tanpa arah.”
Dengan data, desa bisa menentukan prioritas, mengukur dampak, dan merancang kebijakan yang tepat sasaran.
Kang Widhi mencatat dengan serius. Baginya, ini bukan sekadar praktik baik—ini adalah cerita yang harus disebarkan.
Menulis Sejarah, Menjaga Warisan
Menjelang siang, percakapan mulai mengerucut pada satu gagasan besar: mendokumentasikan semua pengalaman ini dalam bentuk buku.
Arif mengusulkan agar perjalanan Pundungan tidak hilang ditelan waktu.
“Kita harus menulisnya,” katanya. “Bukan untuk kita saja, tapi untuk anak cucu kita.”
Danang mengangguk. Ia menyadari bahwa perjuangan desa sering kali tidak tercatat, padahal di sanalah banyak pelajaran berharga.
Kang Widhi, sebagai jurnalis, merasa terpanggil.
“Ini bukan hanya cerita,” ujarnya, “ini adalah grand model—contoh nyata bagaimana desa bisa membangun dirinya sendiri.”
Buku itu nantinya diharapkan menjadi arsip sejarah, sumber inspirasi, dan panduan bagi desa-desa lain. Sebuah warisan pemikiran dan praktik yang bisa ditiru, dikembangkan, bahkan disempurnakan.
Dari Pundungan untuk Dunia
Pertemuan itu berakhir sederhana. Tidak ada seremoni, tidak ada protokol. Hanya tiga orang yang berdiri di pinggir sawah, dengan mimpi besar di kepala dan tekad kuat di hati.
Namun dari kesederhanaan itulah lahir sesuatu yang luar biasa.
Pundungan bukan lagi sekadar desa. Ia adalah laboratorium kehidupan, tempat gagasan diuji, kerja keras dijalankan, dan masa depan dirancang.
Dan di suatu pagi yang sunyi itu, sejarah kecil sedang ditulis—bukan dengan tinta, tetapi dengan kerja nyata.
Agar kelak, anak cucu tidak hidup dalam kehampaan sejarah.
Agar mereka tahu, bahwa pernah ada generasi yang berjuang dari desa, untuk dunia.
![]() |
| Dalam foto Arif Giyanto dan Widhi |


0 Komentar