Selamat Ketemu Lagi Ramandhan Semoga Berlanjut Ibadahnya dihari hari biasa

 

LATIF SAFRUDDIN
PENULIS BUKU NOTO ATI
RESIKI ATI

Di penghujung malam-malam terakhir Ramadhan 1447 H, ketika sebagian manusia terlelap dan dunia terasa sunyi, justru di situlah seorang hamba menemukan ruang paling jujur untuk berbicara dengan Rabb-nya. Sholat malam bukan sekadar rangkaian gerakan, melainkan curahan jiwa yang letih oleh hiruk pikuk dunia—tempat air mata menjadi saksi atas dosa-dosa yang mungkin tak pernah terucap di hadapan manusia.

Ramadhan selalu menghadirkan kesadaran: bahwa dunia ini tidak pernah benar-benar memberi ketenangan. Harta tak pernah cukup, urusan tak pernah selesai, dan keinginan tak pernah berhenti. Namun dalam sujud panjang di sepertiga malam, seorang hamba diingatkan bahwa ketenangan sejati hanya ada ketika hati kembali kepada Allah. Sebagaimana firman-Nya:

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang." (QS. Ar-Ra’d: 28)

Tangisan di malam itu bukan kelemahan, melainkan tanda hidupnya hati. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa salah satu golongan yang mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah orang yang mengingat Allah dalam kesendirian hingga air matanya mengalir. Tangisan itu adalah bahasa jiwa—pengakuan tanpa pembelaan, bahwa diri ini penuh salah, penuh lalai, dan seringkali lebih mencintai dunia daripada akhirat.

Curhat tentang dunia di hadapan Allah adalah bentuk kejujuran tertinggi. Kita mengeluhkan lelahnya hidup, beratnya ujian, sempitnya rezeki, hingga rapuhnya iman. Namun di saat yang sama, kita sadar bahwa semua itu bukan alasan untuk menjauh, justru menjadi alasan untuk kembali. Karena Allah sendiri yang berjanji:

"Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)

Di malam-malam terakhir ini, doa menjadi lebih dalam, lebih lirih, dan lebih penuh harap. Bukan lagi sekadar meminta dunia, tapi memohon ampunan, memohon diterimanya amal yang mungkin tak seberapa, dan memohon kekuatan untuk istiqamah setelah Ramadhan pergi. Karena sesungguhnya yang paling ditakutkan bukanlah kurangnya amal, tapi tidak diterimanya amal itu.

Rasulullah ﷺ sendiri, yang telah dijamin surga, tetap menangis dalam sholat malamnya. Lalu bagaimana dengan kita yang penuh dosa? Maka wajar jika air mata itu jatuh, bahkan seharusnya menjadi kebiasaan. Sebab hati yang tidak pernah menangis, dikhawatirkan telah mengeras.

Ramadhan mengajarkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan, tetapi perubahan arah hidup. Dari lalai menjadi ingat, dari maksiat menjadi taat, dari dunia menuju akhirat. Dan doa seorang hamba di penghujung Ramadhan adalah harapan agar perubahan itu tidak berhenti ketika bulan suci berlalu.

“Ya Allah, terimalah amal kami, ampuni dosa kami, kuatkan kami untuk tetap berada di jalan-Mu, dan jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”

Inilah inti dari perjalanan spiritual Ramadhan: kembali kepada Allah dengan hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan tekad untuk menjadi hamba yang lebih baik. Karena pada akhirnya, dunia akan selesai, tetapi hubungan kita dengan Allah akan menentukan segalanya.

Semoga tangisan di malam terakhir Ramadhan menjadi saksi bahwa kita pernah benar-benar ingin kembali. Dan semoga Allah menerima setiap sujud, setiap doa, dan setiap penyesalan yang kita panjatkan. Aamiin.

Posting Komentar

0 Komentar