
LATIF SAFRUDDIN
OWNER KULINER ONLINE
PENGAGAS NOTOATI,RESIKIATI
Beberapa hari lagi akan tiba. Di desa-desa, suasananya mulai terasa berbeda. Jalanan yang biasanya lengang perlahan menjadi ramai. Rumah-rumah mulai dibersihkan, halaman disapu, pagar dicat kembali. Aroma kue lebaran mulai tercium dari dapur-dapur rumah warga. Anak-anak berlarian dengan wajah ceria, menanti hari kemenangan yang sebentar lagi datang.
Di sudut-sudut kampung, terlihat kendaraan mulai berdatangan. Mereka yang merantau perlahan kembali. Ada yang datang dari kota besar, ada yang dari luar daerah, bahkan dari luar negeri. Semua pulang membawa satu kerinduan yang sama: kembali ke kampung halaman, kembali ke keluarga, kembali ke akar kehidupan yang sederhana namun penuh makna.
Tradisi pulang kampung bukan hanya perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan batin. Dalam setiap langkah menuju rumah, ada kerinduan untuk kembali menjadi diri yang lebih bersih, lebih tulus, dan lebih dekat kepada Allah. Sebab bukan sekadar perayaan, tetapi simbol kembalinya manusia kepada fitrah.
Di tengah suasana itu, ada satu hal yang sering diajarkan oleh para orang tua di desa: noto ati lan resiki ati — menata hati dan membersihkan hati. Pesan sederhana yang diwariskan dari generasi ke generasi, namun memiliki makna spiritual yang sangat dalam.
Menata hati berarti memperbaiki niat dalam setiap langkah kehidupan. Selama bulan Ramadhan, manusia dilatih untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi yang lebih penting adalah menahan amarah, menahan kesombongan, dan menahan segala penyakit hati. Sebab hati adalah pusat dari segala perilaku manusia.
Dalam Allah mengingatkan bahwa pada akhirnya bukan harta atau kedudukan yang akan menyelamatkan manusia, melainkan hati yang bersih. Hati yang tidak dipenuhi iri, dengki, kebencian, dan kesombongan. Hati yang dipenuhi dengan keikhlasan, kesabaran, dan rasa syukur.
Membersihkan hati juga berarti belajar memaafkan. Di desa, menjelang lebaran sering terlihat orang-orang saling berkunjung, berjabat tangan, dan mengucapkan maaf. Bukan sekadar tradisi, tetapi sebuah latihan spiritual. Karena memaafkan orang lain pada hakikatnya adalah membersihkan diri sendiri dari beban kebencian.
Rasulullah pernah mengingatkan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Segumpal daging itu adalah hati.
Karena itu, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk merawat hati. Melalui shalat malam, membaca , memperbanyak sedekah, serta memohon ampun kepada Allah. Semua ibadah itu bukan hanya ritual, tetapi proses pembersihan jiwa.
Ketika akhirnya takbir berkumandang di malam , sebenarnya yang dirayakan bukan sekadar berakhirnya puasa. Yang dirayakan adalah kemenangan manusia melawan dirinya sendiri. Kemenangan melawan ego, kemarahan, dan keserakahan.
Di pagi hari lebaran, masyarakat desa berjalan menuju masjid atau lapangan untuk melaksanakan shalat Id. Mereka datang dengan pakaian terbaik, namun yang lebih penting adalah membawa hati yang bersih. Setelah itu mereka saling berjabat tangan, saling memaafkan, dan saling mendoakan.
Di situlah makna noto ati lan resiki ati benar-benar terasa. Bahwa perjalanan Ramadhan akhirnya bermuara pada satu tujuan: menjadi manusia yang kembali kepada fitrah.
Maka pulang kampung bukan hanya pulang ke rumah. Lebih dari itu, ia adalah perjalanan pulang menuju hati yang bersih. Sebuah perjalanan untuk kembali kepada keikhlasan, kepada persaudaraan, dan kepada Allah.
Dan ketika matahari pagi terbit di langit desa, setiap orang berharap semoga Ramadhan benar-benar telah mengubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Lebih sabar, lebih rendah hati, dan lebih peduli kepada sesama.
Karena pada akhirnya, kemenangan yang sesungguhnya adalah ketika hati manusia kembali bersih seperti saat ia dilahirkan. 🌙
0 Komentar