![]() |
| Selalu kumandangkan adzan dimasjid adalah dosen UGM namanya mas abi |
Bismillahirrahmanirrahim.
Di antara hiruk pikuk kehidupan dunia, ada panggilan yang tak pernah berhenti—lembut namun tegas, sederhana namun menggugah jiwa. Setiap hari, lima kali, suara itu menggema dari masjid kecil dekat rumah. Suara yang mungkin dulu terasa biasa saja, bahkan terkadang terabaikan. Namun kini, suara itu terasa berbeda… lebih dalam, lebih menyentuh, lebih menusuk ke relung hati.
Ternyata, yang selama ini mengumandangkan panggilan itu—yang akrab dipanggil “Mas Abi”—bukanlah sosok biasa. Ia adalah seorang dosen psikologi di UGM. Sosok berilmu, berpendidikan tinggi, dengan perawakan sederhana, berjenggot rapi, dan penuh ketenangan. Selama ini, mungkin banyak yang mengira ia bagian dari kalangan teknik, atau jaringan para penggerak masjid dan pondok pesantren di Jogja. Tapi kenyataannya, ia datang dari dunia yang berbeda—psikologi—ilmu yang memahami jiwa manusia.
Dan di situlah letak keindahannya.
Ia bukan hanya memahami manusia secara teori, tapi juga menghidupkan jiwanya dengan iman. Ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tapi juga mengajak manusia kembali kepada Tuhannya melalui toa masjid.
Setiap kali ia mengucap, “Hayya ‘alash sholah… hayya ‘alal falah…,” ada getaran yang berbeda. Seakan bukan sekadar ajakan, tapi panggilan cinta. Panggilan yang mengingatkan bahwa hidup ini bukan hanya tentang dunia, bukan hanya tentang gelar, jabatan, atau pencapaian.
Allah berfirman:
“Dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (QS. Thaha: 14)
Dan juga:
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Mendengar itu, hati mulai bertanya pada diri sendiri…
Bagaimana mungkin seseorang dengan kesibukan sebagai dosen, dengan tanggung jawab akademik yang besar, masih sempat dan istiqamah mengajak orang lain sholat?
Sementara kita… yang mungkin lebih lapang waktunya… justru sering menunda, bahkan melupakan?
Rasa malu itu datang perlahan. Bukan malu yang menjatuhkan, tapi malu yang menyadarkan. Malu karena merasa selama ini terlalu sibuk dengan urusan dunia, tapi lalai dengan kewajiban utama sebagai hamba.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Tirmidzi)
Hadits ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk mengingatkan betapa pentingnya shalat dalam kehidupan seorang muslim. Ia bukan sekadar rutinitas, tapi tiang agama. Tanpanya, bangunan iman akan rapuh.
Mas Abi, dengan segala kesederhanaannya, seakan menjadi cermin. Bahwa ilmu yang tinggi tidak menjauhkan seseorang dari Allah, justru semakin mendekatkannya. Bahwa kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari dunia, tapi dari seberapa kuat hubungan kita dengan Sang Pencipta.
Lima kali sehari, panggilan itu terus datang. Kadang di tengah lelah, kadang di sela kesibukan, kadang saat hati sedang lalai. Tapi justru di situlah letak rahmatnya. Allah tidak pernah lelah mengundang hamba-Nya kembali.
“Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila Dia menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu.” (QS. Al-Anfal: 24)
Shalat itu kehidupan. Bukan beban.
Dan mungkin, melalui Mas Abi, Allah sedang mengetuk hati…
Bahwa kita masih diberi kesempatan untuk berubah.
Bahwa belum terlambat untuk memperbaiki diri.
Bahwa setiap panggilan adzan adalah undangan kehormatan langsung dari Allah.
Kini, setiap suara itu terdengar, bukan lagi sekadar rutinitas. Tapi pengingat… bahwa ada Rabb yang selalu menunggu kita kembali.
Dan di antara rasa malu itu, tumbuh harapan—semoga suatu hari nanti, kita bisa menjadi seperti Mas Abi…
Bukan hanya memahami kehidupan… tapi juga menghidupkan iman dalam setiap langkah.


0 Komentar