“Ramai Order, Sepi Untung — Dilema UMKM di Era Iklan Digital”

  

Kelas hari pertama dalam kegiatan tiktok ads

Dua hari mengikuti kelas “Rahasia Cuan dari TikTok Ads” membuka satu kenyataan yang sering tidak disampaikan secara utuh: iklan memang bisa mendatangkan pembeli, tetapi belum tentu mendatangkan keuntungan. Di tengah euforia digital marketing, banyak pelaku UMKM—terutama kuliner—terjebak pada angka omzet yang terlihat besar, padahal margin keuntungannya semakin tipis.

Fenomena ini nyata. Ketika iklan dijalankan di berbagai platform seperti ShopeeFood, Grab, dan Gojek, pesanan bisa melonjak drastis. Dapur sibuk, notifikasi masuk tanpa henti, dan seolah bisnis sedang “naik kelas”. Namun di balik itu, ada biaya yang diam-diam menggerus: komisi platform, potongan promo, ongkir subsidi, hingga biaya iklan itu sendiri. Akhirnya, dari harga jual yang terlihat tinggi, keuntungan bersih justru kecil—bahkan bisa tidak ada.

Di sisi lain, tren penggunaan TikTok Ads menjadi primadona baru. Banyak yang percaya bahwa kunci omzet besar hari ini adalah beriklan di platform yang sedang “naik daun”. Padahal, ada perbedaan mendasar yang sering diabaikan:

  • Platform seperti ShopeeFood dan Grab adalah pasar siap beli (high intent).
  • Sementara TikTok adalah pasar hiburan yang harus dipancing dulu (low intent).

Artinya, strategi tidak bisa disamakan. Mengandalkan TikTok untuk langsung closing tanpa sistem yang matang hanya akan membuat biaya iklan membengkak tanpa hasil signifikan. Tidak heran jika kemudian muncul “kelas lanjutan”: bagaimana closing di WhatsApp, bagaimana CS menjawab, dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa iklan hanyalah pintu masuk—bukan solusi akhir.

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah harga dan positioning produk. Banyak pelaku usaha tidak berani menaikkan harga karena takut kehilangan pelanggan. Padahal, kenaikan harga di platform seringkali bukan untuk memperbesar keuntungan, melainkan untuk menutup biaya sistem yang kompleks. Di sinilah dilema muncul: antara ingin terlihat murah, tapi harus bertahan secara bisnis.

Pengalaman menarik juga terlihat dari Google Maps: pelanggan dari luar kota mengenal brand kita, tetapi tetap membeli di tempat terdekat dari lokasi mereka. Ini menegaskan satu hal penting—brand awareness tidak selalu berbanding lurus dengan penjualan langsung. Distribusi dan kedekatan lokasi tetap menjadi faktor utama dalam bisnis kuliner.

Dari semua ini, ada satu kesimpulan yang perlu disadari oleh pelaku UMKM:
iklan adalah alat, bukan pondasi.
Jika produk belum kuat, margin belum sehat, dan sistem belum rapi, maka iklan justru akan mempercepat kerugian, bukan keuntungan.

Maka, strategi yang lebih bijak bukan sekadar “ikut tren”, tetapi memahami kondisi usaha sendiri:

  • Memperkuat kualitas produk dan pelayanan
  • Mengoptimalkan platform yang sudah terbukti menghasilkan
  • Menggunakan media sosial untuk membangun kepercayaan, bukan hanya jualan cepat
  • Dan yang terpenting, menjaga keseimbangan antara omzet dan keuntungan

Di era digital ini, tantangan UMKM bukan lagi sekadar “bagaimana mendapatkan pembeli”, tetapi bagaimana tetap untung di tengah biaya yang semakin kompleks. Karena pada akhirnya, bisnis yang bertahan bukan yang paling ramai—tetapi yang paling sehat secara keuangan.

Oleh : 

Latif Safruddin

Owner Dapur Barokah

Owner Jasakelola Medsos




Posting Komentar

0 Komentar