Angkringan Jalan Solo–Jogja: Hangatnya Wedang Jahe di Dekat Tegalyoso Menjelang sore

Suasana angkringan di jalan solo jogja depan jasmin cucian mobil

Menjelang sore matahari mulai turun perlahan di ufuk barat dan Jalan Solo–Jogja masih ramai oleh kendaraan yang lalu-lalang, ada satu sudut sederhana yang kerap luput dari perhatian orang-orang yang terburu waktu. Tepat di sekitar Jasmin Wast, tak jauh dari Rumah Sakit Tegalyoso, berdirilah sebuah angkringan kecil—tanpa papan nama mencolok, tanpa lampu gemerlap—namun selalu setia menyalakan kehangatan.

Angkringan ini bukan sekadar tempat singgah. Ia adalah ruang jeda. Tempat orang-orang melepas penat setelah seharian bekerja, tempat obrolan ringan bertemu cerita hidup, dan tempat kehangatan diseduh perlahan dalam gelas-gelas sederhana.

Menu andalannya tidak rumit, justru di situlah keistimewaannya. Wedang teh jahe menjadi primadona. Diseduh dari jahe segar yang aromanya langsung menyeruak begitu air panas disiramkan. Hangatnya bukan sekadar di lidah, tapi menjalar hingga ke dada. Rasanya khas—tidak terlalu manis, pedas jahenya pas, seperti dibuat dengan penuh rasa dan pengalaman.

Tak kalah istimewa adalah wedang susu jahe. Perpaduan susu hangat dan jahe segar menciptakan rasa lembut sekaligus menenangkan. Cocok diminum saat malam mulai dingin, ketika tubuh butuh pelukan sederhana dalam bentuk minuman hangat. Banyak yang datang kembali hanya untuk satu gelas ini.

Yang membuat angkringan ini semakin berkesan adalah harganya yang sangat ramah. Murah, jauh dari kata memberatkan. Dengan uang receh, siapa pun bisa duduk, memesan wedang, dan menikmati waktu tanpa merasa dikejar biaya. Di sini, semua orang setara—pekerja harian, mahasiswa, sopir, hingga warga sekitar yang sekadar ingin berbincang.

Di bangku kayu panjang itu, sering terdengar tawa kecil, cerita keluarga, obrolan desa, hingga diskusi ringan soal hidup. Tidak ada musik keras, hanya suara kendaraan, gesekan gelas, dan percakapan yang mengalir alami. Angkringan ini seakan menjadi saksi bisu perjalanan banyak orang—datang dengan lelah, pulang dengan hati yang lebih ringan.

Di tengah hiruk-pikuk Jalan Solo–Jogja, angkringan kecil dekat Tegalyoso ini mengajarkan satu hal sederhana: bahwa kebahagiaan tidak selalu mahal. Kadang, ia hadir dalam segelas wedang jahe hangat, harga yang bersahabat, dan ruang kecil untuk berhenti sejenak dari riuhnya dunia.

Dan ketika malam semakin larut, lampu angkringan itu tetap menyala—menjadi penanda bahwa kehangatan selalu punya tempat, bagi siapa pun yang mau singgah.

Teh jahe panas enak sekali


Segelas Jahe di Jalan Pulang

Di sepanjang Jalan Solo–Jogja,
di antara deru mesin dan langkah yang terburu,
ada satu sudut kecil dekat Tegalyoso
yang memilih setia pada kesederhanaan.

Sebuah angkringan.
Tanpa nama besar.
Tanpa cahaya berlebihan.
Hanya lampu temaram dan kursi kayu
yang mengundang siapa saja untuk berhenti sejenak.

Di sanalah jahe diseduh perlahan,
bukan sekadar minuman,
melainkan doa yang menguap bersama aroma hangat.
Wedang teh jahe disajikan dengan rasa yang jujur—
pedasnya lembut, manisnya tak memaksa,
seperti nasihat orang tua
yang sampai ke hati tanpa perlu suara keras.


Lalu hadir wedang susu jahe,
lembut dan menenangkan,
seolah berkata:
“Tenanglah, tak semua lelah harus dilawan.”
Hangatnya merayap dari telapak tangan
hingga ke ruang sunyi di dada.

Harga di angkringan ini pun rendah hati.
Tak menawar waktu,
tak menakar status,
siapa pun boleh duduk
dan memesan kehangatan
dengan uang seadanya.

Di bangku panjang itu,
cerita mengalir tanpa panggung.
Tentang kerja hari ini,
tentang rumah yang menunggu,
tentang hidup yang kadang keras
namun masih bisa dihadapi
dengan segelas wedang jahe.

Angkringan ini mengajarkan satu hal sederhana:
bahwa bahagia tak selalu harus megah.
Kadang ia hadir
dalam gelas kecil,
di pinggir jalan,
pada malam yang biasa saja.

Dan ketika malam kian larut,
lampu angkringan itu tetap menyala—
menjadi penanda
bahwa selalu ada tempat pulang
bagi hati yang lelah.

Teh jahe panas yang hangatnl disrutup harga murah dan spesial banget




Posting Komentar

0 Komentar