Toilet Masjid Harus Lebih Bersih dari Toilet SPBU

LATIF SAFRUDDIN 
SEKJEN R3M 

Visi yang Melahirkan Relawan Resik-Resik Masjid (R3M) Klaten

Dari Sebuah Keresahan, Lahir Sebuah Gerakan

“Kenapa toilet masjid sering kalah bersih dari toilet SPBU?”

Pertanyaan sederhana itu kerap terlintas di benak banyak jamaah. Masjid adalah rumah Allah, tempat manusia bersujud, membersihkan diri secara lahir dan batin. Namun ironisnya, di banyak tempat, toilet masjid justru menjadi ruang yang dihindari: licin, bau, kurang air, bahkan tak jarang gelap dan kumuh. Sementara toilet SPBU—yang dikelola dengan standar layanan—sering kali lebih bersih, wangi, dan nyaman.

Dari kegelisahan itulah, Relawan Resik-Resik Masjid (R3M) Klaten lahir. Bukan sebagai organisasi besar dengan struktur rumit, melainkan sebagai gerakan nurani. Gerakan yang dimulai dari obrolan sederhana beberapa orang yang memiliki satu kesamaan: cinta pada masjid dan keinginan untuk merawatnya dengan tindakan nyata.

R3M berdiri di Klaten, digerakkan oleh orang-orang yang tidak ingin hanya mengeluh, tetapi memilih untuk turun tangan. Mereka percaya bahwa kebersihan masjid—terutama toilet dan tempat wudhu—bukan pekerjaan rendahan, melainkan ibadah mulia. Sebab dari sanalah jamaah memulai kesuciannya sebelum menghadap Allah.

Visi R3M jelas dan tegas:

Toilet masjid harus lebih bersih daripada toilet SPBU.

Bukan sekadar slogan, melainkan standar moral dan spiritual.


Konsistensi dalam Sunyi, Bergerak Tanpa Sorotan

R3M Klaten memilih waktu yang tidak biasa: Kamis malam. Saat sebagian orang beristirahat, relawan R3M justru bersiap dengan sapu, sikat, cairan pembersih, dan semangat yang tak pernah padam. Kegiatan ini dilakukan setiap Kamis malam di awal dan akhir bulan, sebagai bentuk konsistensi dan kedisiplinan.

Tidak ada panggung. Tidak ada sorak-sorai. Yang ada hanyalah suara air mengalir, gesekan sikat di keramik, dan lantunan shalawat lirih yang mengiringi kerja tangan. Para relawan membersihkan toilet, tempat wudhu, lantai masjid, selokan, hingga sudut-sudut yang sering luput dari perhatian.

Bagi R3M, resik masjid bukan sekadar bersih-bersih, tetapi proses mendidik hati:

  • Belajar ikhlas tanpa dipuji
  • Belajar rendah hati dengan pekerjaan yang sering diremehkan
  • Belajar bahwa dakwah tidak selalu lewat mimbar, tetapi lewat teladan

Gerakan ini perlahan dikenal. Bukan karena gencar promosi, tetapi karena hasil kerja yang terlihat dan dirasakan jamaah. Masjid menjadi lebih nyaman, wangi, dan hidup. Jamaah datang dengan perasaan tenang, anak-anak betah, dan pengurus masjid merasa terbantu.


Dari Masjid Kampung hingga Masjid Raya

Seiring waktu, langkah R3M Klaten semakin meluas. Tidak hanya masjid-masjid kecil di kampung, tetapi juga masjid-masjid besar dan bersejarah.

Setiap tahun, R3M secara rutin terlibat dalam kegiatan Resik Masjid Raya Klaten, bekerja bersama berbagai komunitas, ROHIS Kabupaten Klaten, para pemuda masjid, serta dukungan sponsor yang peduli. Kolaborasi menjadi kekuatan. R3M percaya bahwa merawat masjid adalah tanggung jawab bersama, lintas komunitas dan lintas latar belakang.

Salah satu momen penting adalah ketika R3M terlibat dalam Resik Masjid Al-Aqsho Klaten. Masjid yang menjadi pusat kegiatan umat itu dibersihkan dengan penuh kehati-hatian dan rasa hormat. Setiap sudut diperlakukan seolah sedang membersihkan rumah sendiri.

Tak berhenti di situ, R3M juga pernah ikut membersihkan Masjid Agung Surakarta, bergabung bersama Tim Resik Masjid Soloraya. Sebuah pengalaman yang mempertemukan banyak relawan dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: memuliakan masjid.

Di sana, R3M Klaten belajar bahwa gerakan kecil dari daerah bisa menjadi bagian dari gerakan besar yang menyatukan umat.


Menjadi Bagian dari Gerakan Jawa Tengah dan DIY

Semangat R3M Klaten tidak mengenal batas administratif. Relawan ini juga aktif dalam kegiatan Resik Masjid di wilayah Jawa Tengah dan DIY. Dari masjid pinggir sawah hingga masjid perkotaan, dari masjid tua hingga masjid modern—semuanya mendapat sentuhan yang sama: sentuhan keikhlasan.

Yang menarik, R3M tidak datang membawa ego komunitas. Mereka datang membawa niat ibadah dan semangat kolaborasi. Siap bekerja bersama siapa pun: komunitas lokal, takmir masjid, pemuda, bahkan jamaah yang awalnya hanya menonton lalu ikut tergerak membantu.

Bagi R3M, masjid yang bersih bukan hanya tentang estetika, tetapi tentang martabat umat Islam. Masjid yang terawat mencerminkan umat yang peduli. Toilet masjid yang bersih mencerminkan pemahaman bahwa Islam sangat menjunjung tinggi kebersihan sebagai bagian dari iman.

Gerakan ini juga menjadi ruang pendidikan sosial:

  • Mengajarkan pemuda tentang kerja kolektif
  • Menumbuhkan kepedulian lintas generasi
  • Menghidupkan kembali budaya gotong royong

Harapan, Doa, dan Langkah ke Depan

R3M Klaten sadar, perjuangan ini tidak selalu mudah. Ada masa relawan sedikit, alat terbatas, bahkan semangat yang naik turun. Namun satu hal yang selalu menjadi penguat adalah niat lillahi ta’ala.

Visi “Toilet Masjid Lebih Bersih dari Toilet SPBU” bukanlah target yang selesai dalam sehari. Ia adalah perjalanan panjang, yang membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan regenerasi.

Harapan R3M sederhana namun dalam:

  • Semakin banyak masjid yang peduli kebersihan
  • Semakin banyak relawan yang mau turun tangan
  • Semakin kuat kolaborasi antar komunitas
  • Masjid menjadi pusat peradaban yang nyaman dan membahagiakan

R3M Klaten percaya, membersihkan masjid adalah cara sederhana mencintai Islam. Dan dari sapu, air, serta tangan-tangan yang bekerja dalam diam, Allah menumbuhkan keberkahan yang luas.

Karena masjid yang bersih bukan hanya tempat ibadah,
tetapi cermin keimanan dan kepedulian umat.




Posting Komentar

0 Komentar