Firman yang Hidup di Tengah Kita:Tasyakuran dan Aqiqah Ananda Faza: Malam Syukur, Cinta, dan Harapan Panjang


FOTO dari sebelah kiri bang Dios, Firman, Sapto, Rahmad

Malam yang Tidak Biasa

Alhamdulillah.
Ada malam-malam tertentu yang tidak sekadar berlalu, tetapi meninggalkan jejak di hati. Malam itu adalah salah satunya. Malam selepas shalat Isya, ketika udara terasa lebih lembut dan langit seolah ikut tersenyum, sebuah rumah dipenuhi rasa syukur yang tak terucap dengan kata-kata.

Firman Allah terasa hadir di mana-mana—di senyum para tamu, di lantunan doa, di mata orang tua yang berbinar. Malam itu bukan hanya tentang sebuah acara, melainkan tentang kehidupan yang baru saja dimulai.

Seorang anak laki-laki telah Allah titipkan. Namanya Faza. Nama yang singkat, namun mengandung doa panjang. Nama yang diucapkan dengan bahagia, diiringi harapan agar kelak ia tumbuh menjadi anak yang kuat iman, lembut hati, dan teguh langkah.

Aqiqah, Simbol Syukur dan Tanggung Jawab

Aqiqah bukanlah sekadar tradisi. Ia adalah pernyataan syukur, pengakuan bahwa anak bukan milik mutlak orang tua, melainkan amanah dari Allah. Maka malam itu, setiap rangkaian acara dilakukan dengan kesadaran penuh: bahwa kebahagiaan ini harus dibingkai dengan iman.

Tasyakuran dan aqiqah Ananda Faza digelar dengan sederhana, namun penuh makna. Tidak ada kemewahan berlebihan, yang ada justru kehangatan dan ketulusan. Setiap tamu yang datang bukan hanya membawa doa, tetapi juga membawa cerita, persahabatan, dan rasa memiliki.

Sekitar 250 undangan disiapkan. Angka itu bukan sekadar hitungan kursi atau porsi makanan, melainkan simbol bahwa kebahagiaan selalu lebih indah ketika dibagi.

Tausyiah Bersama Ustadz Hanif

 Warga, Sahabat, dan Ikatan Sosial

Warga sekitar hadir dengan wajah-wajah yang akrab. Ada yang datang dengan senyum lebar, ada yang menyalami dengan doa lirih, ada pula yang duduk sejenak menikmati suasana, seolah ingin menyimpan momen itu lebih lama.

Kehadiran mereka adalah bukti bahwa hidup bermasyarakat masih punya denyut yang kuat. Bahwa ketika satu keluarga bersyukur, lingkungan ikut merayakan. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Semua larut dalam suasana kekeluargaan.

Di sudut lain, terlihat para sahabat dari berbagai komunitas—orang-orang yang selama ini berjalan bersama dalam dakwah, sosial, dan pengabdian.

Komunitas yang Menjadi Keluarga

Hadir Bikers Subuhan Klaten, komunitas yang menjadikan subuh bukan sekadar waktu, tetapi identitas. Mereka datang bukan sebagai klub motor, melainkan sebagai saudara dalam iman.

Hadir pula Relawan Resik-Resik Masjid (R3M)—orang-orang yang biasa datang dalam sunyi, membawa sapu dan sikat, malam itu hadir membawa doa dan senyum. Mereka membuktikan bahwa ikatan relawan bukan hanya saat bekerja, tetapi juga saat bersyukur bersama.

Tak ketinggalan teman-teman KOKAM, yang dikenal dengan kedisiplinan dan kesiapsiagaan. Kehadiran mereka menambah rasa aman sekaligus hangat, seolah menyampaikan pesan: kita jaga satu sama lain, kita doakan generasi berikutnya.

Malam itu, komunitas bukan sekadar kumpulan orang, melainkan keluarga besar yang disatukan oleh nilai dan tujuan.


Ustadz Hanif dan Nasihat yang Menyentuh

Acara inti diisi oleh Ustadz Hanif, yang malam itu menyampaikan tausiyah dengan cara yang sederhana namun menghujam ke dalam hati. Tidak berteriak, tidak menggurui, tetapi menyadarkan.

Beliau mengawali dengan senyum, lalu perlahan mengajak hadirin merenung:
bahwa memiliki anak bukan hanya tentang bahagia, tetapi juga tentang siap bertanggung jawab seumur hidup.

Orang Tua Dulu, Baru Anak

Salah satu pesan yang paling membekas adalah kalimat yang terasa sederhana, namun berat maknanya:

“Orang tua dulu yang harus dibenahi, baru anak.”

Beliau menjelaskan bahwa anak adalah cermin. Jika orang tua ingin anaknya rajin shalat, maka orang tua harus lebih dulu mencintai shalat. Jika ingin anak dekat masjid, maka orang tua harus menjadikan masjid sebagai rumah kedua.

Pendidikan agama, tegas beliau, tidak boleh menunggu anak baligh. Ketika anak laki-laki sudah baligh, shalat berjamaah di masjid menjadi kewajiban. Maka kesalahan terbesar adalah baru mendidik setelah kewajiban itu datang.

Sebelum baligh, anak harus:

  • Dibiasakan shalat

  • Dikenalkan masjid dengan rasa cinta

  • Didekati agama dengan keteladanan, bukan paksaan

Para Tamu undangan dari warga sekitar dan lainnya


Faza dan Doa yang Mengalir

Nama Faza berkali-kali disebut dalam doa malam itu. Dalam hati setiap hadirin, terlintas harapan yang sama: semoga anak ini tumbuh dalam kebaikan.

Doa-doa itu tidak terdengar keras, tetapi terasa kuat. Ada doa orang tua, doa warga, doa sahabat, dan doa para relawan yang biasa bermunajat di sepertiga malam.

Faza mungkin belum mengerti apa yang terjadi malam itu. Namun kelak, ketika ia dewasa, malam ini akan menjadi jejak spiritual pertama dalam hidupnya—bahwa ia disambut dunia dengan doa, bukan sekadar nama.

Kebahagiaan yang Mengalir Sederhana

Makanan dibagikan, senyum dibagi, tawa kecil terdengar di antara obrolan ringan. Anak-anak berlarian, orang dewasa berbincang, para orang tua saling mendoakan.

Tidak ada yang berlebihan. Justru dalam kesederhanaan itulah kebahagiaan terasa utuh. Semua pulang dengan hati hangat, perut kenyang, dan pikiran yang tercerahkan.

Malam itu mengajarkan bahwa bahagia tidak harus mahal, cukup tulus dan penuh syukur.

Aqiqah sebagai Titik Awal, Bukan Akhir

Aqiqah ini bukanlah penutup, melainkan titik awal perjalanan panjang. Setelah malam itu, tugas orang tua justru semakin besar.

Mendidik Faza agar:

  • Mengenal Allah sebelum mengenal dunia

  • Mencintai masjid sebelum mencintai keramaian

  • Menjaga shalat sebelum mengejar prestasi

Semua dimulai dari rumah. Dari teladan ayah dan ibu. Dari doa-doa yang tak putus meski anak sedang tertidur.

Syukur yang Menjadi Doa Panjang

Alhamdulillah.
Firman Allah benar-benar hidup—dalam keluarga, dalam komunitas, dalam setiap niat baik yang ditanamkan.

Malam tasyakuran dan aqiqah Ananda Faza bukan hanya peristiwa, tetapi pengingat:
bahwa generasi kuat lahir dari rumah yang sadar iman,
dan masa depan umat dimulai dari anak-anak yang dididik dengan cinta dan keteladanan.

Semoga Faza kelak tumbuh menjadi:
anak shalih,
penjaga shalat,
pecinta masjid,
dan penerus kebaikan.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.

Diajak Selfi saat acara belum dimulai


Posting Komentar

0 Komentar