![]() |
| Dalam poto manten laki dan perempuan berbalut gaun indah padang |
langkah kaki membawa cerita. Dari Klaten menuju Yogyakarta, tepatnya ke Gedung Auditorium UPN, suasana berubah menjadi lautan warna, aroma, dan bahasa. Mantena Padang Klaten bukan sekadar acara—ia adalah perjumpaan. Perjumpaan antarbudaya yang berbeda asal-usul, namun satu tujuan: merayakan kebersamaan.
Di dalam auditorium, setiap sudut bercerita. Lapak-lapak berdiri rapi, dibalut dekorasi khas yang memikat mata. Ada yang mengenakan busana adat Minangkabau dengan suntiang berkilau, ada pula yang anggun dengan sentuhan Jawa yang lembut. Bahasa saling bersahutan—Minang, Jawa, Indonesia—bercampur tanpa sekat, seperti alunan musik yang menemukan harmoni.
![]() |
| Musik pengiring pun dihadirkan dari padang suasana jadi di padang |
Aroma masakan menjadi penanda kuat kebersatuan itu. Rendang yang kaya rempah bertemu gudeg yang manis dan bersahaja. Sate Padang berdampingan dengan tiwul dan jadah. Lidah diajak berkelana, mengenal rasa-rasa yang berbeda namun sama-sama lahir dari kearifan lokal. Setiap suapan adalah kisah; tentang tanah, tentang keluarga, tentang tradisi yang dijaga dengan cinta.
Wajah-wajah pengunjung memantulkan kebahagiaan sederhana. Ada tawa yang lepas, ada obrolan yang hangat, ada saling sapa yang tulus meski baru bertemu. Di antara keramaian, terasa pesan yang kuat: perbedaan bukan alasan untuk berjarak, melainkan alasan untuk saling mendekat.
Auditorium UPN hari ini menjelma menjadi ruang persatuan. Ia menegaskan bahwa Indonesia bukan hanya tentang ragam yang banyak, tetapi tentang kesediaan untuk bersatu. Dari Klaten hingga Padang, dari Jogja hingga penjuru Nusantara—kita bertemu, berbagi, dan pulang membawa rasa yang sama: bangga menjadi bagian dari mozaik budaya yang indah ini.






0 Komentar