Malam turun perlahan di Disidowayah, Polanharjo, Klaten. Langit gelap membentang tenang, diselingi cahaya lampu masjid yang menyinari halaman Masjid Al-Imam. Setelah azan Isya berkumandang dan sholat berjamaah ditunaikan, para relawan tidak bergegas pulang. Mereka tetap duduk sejenak, merapatkan niat, menata hati. Malam itu, masjid bukan hanya tempat sujud—ia menjadi ruang pengabdian.
Usai salam terakhir, sebagian relawan tetap berada di saf. Ada yang menambah doa, ada yang berdzikir lirih. Di tempat itulah mereka sholat—di masjid yang sama yang akan mereka bersihkan. Rasanya berbeda. Ada kedekatan yang tak terucap, seolah setiap langkah berikutnya adalah lanjutan dari sholat itu sendiri. Membersihkan masjid malam ini bukan aktivitas terpisah, melainkan ibadah yang disambung dengan amal nyata.
Peralatan mulai dikeluarkan. Suara sapu menggesek lantai berpadu dengan bisik doa. Karpet diangkat dan dirapikan, sudut-sudut yang jarang tersentuh diseka perlahan. Cahaya lampu memantul di lantai yang basah, menghadirkan kilau sederhana yang menenangkan. Malam memberi ketenangan—tidak ada tergesa, hanya kesabaran dan kebersamaan.
Di sela kerja, senyum dan sapa hangat mengalir. Kang Yuli, salah satu penggagas R3M, kembali menyatukan hati dengan kebersahajaan. Dua tahun R3M nyaris senyap, namun malam itu ia menemukan denyutnya kembali. Bukan dengan janji-janji, melainkan dengan kerja sunyi dan niat yang lurus. Seperti masjid yang bersih di malam hari, gerakan ini dibersihkan dari riuh, dipenuhi keikhlasan.
Ketika waktu istirahat tiba, kehangatan kebersamaan terasa utuh. Nasi liwet yang disiapkan menjadi penutup yang menguatkan. Duduk melingkar, berbagi cerita, menertawakan lelah—semuanya menyatu dalam rasa syukur. Di malam yang hening, kebersamaan itu terasa lebih bermakna; sederhana, namun penuh berkah.
Aksi resik masjid malam hari ini mengajarkan kami satu hal penting: amal tidak selalu perlu sorot lampu, cukup diterangi niat. Dari sholat Isya yang khusyuk, berlanjut pada tangan-tangan yang bekerja, hingga doa penutup yang lirih—semuanya menjadi satu rangkaian ibadah.
Kami pulang dengan hati yang lebih ringan. Masjid Al-Imam tampak lebih bersih, dan kami pun merasa lebih dekat. Semoga langkah kecil di malam ini menjadi awal yang istiqamah—menghidupkan kembali R3M, menguatkan persaudaraan, dan meneguhkan bahwa setiap amal yang dilakukan setelah sholat, dengan niat karena Allah, akan selalu menemukan jalannya menuju keberkahan.





0 Komentar