1 Januari 2026

salah satu sudut kafe 

Pagi itu, Jogja menyambut tahun baru dengan cara yang sederhana namun jujur. Di sebuah kafe kecil di wilayah paling utara kota—sekitar Jalan Damai—aku memilih menyendiri. Bukan untuk melarikan diri dari keramaian, tetapi untuk berdamai dengan waktu. Meja kayu di sudut kafe menjadi saksi: secangkir kopi yang mengepul pelan, buku catatan yang terbuka, dan daftar aktivitas yang seharusnya segera diselesaikan.

Hujan datang tanpa permisi. Rintiknya mula-mula tipis, lalu semakin rapat, seolah langit sedang menurunkan beban yang lama disimpannya. Jalanan yang biasanya riuh menjadi lebih tenang. Suara kendaraan berganti dengan irama hujan yang jatuh di atap seng kafe. Aku terdiam sejenak, membiarkan waktu melambat. Ada rencana yang tertunda, ada agenda yang terpaksa disesuaikan. Namun justru di sela jeda itu, pikiran menjadi lebih jernih.

Aktivitas yang kuhadapi hari itu bukan sekadar pekerjaan rutin. Ada urusan sosial yang harus ditata, ada langkah-langkah kecil yang jika disatukan bisa menjadi jalan panjang bagi kebaikan bersama. Di tengah hujan, aku menyadari bahwa progres tak selalu harus bising. Kadang ia hadir sunyi—dalam bentuk satu paragraf yang rampung, satu keputusan yang dimantapkan, atau satu pesan yang dikirim dengan niat baik.

Kafe itu menjadi ruang tafakur. Aku mengingat kembali niat-niat yang sering kali tergerus oleh kesibukan. Keshalehan sosial bukan hanya tentang hadir di tengah keramaian, tetapi juga tentang kesungguhan menyiapkan diri. Tentang ketekunan menyusun rencana yang berpihak pada banyak orang. Tentang kesabaran menunggu hujan reda sambil tetap melangkah, meski perlahan.

Di luar, hujan belum juga usai. Namun di dalam, ada kehangatan yang tumbuh—kehangatan dari keyakinan bahwa setiap usaha yang dilandasi niat baik akan menemukan jalannya. Progres hari itu mungkin tak terlihat oleh banyak mata, tetapi ia nyata. Ia tercatat, rapi, dan siap dilanjutkan ketika langit kembali cerah.

Menjelang siang, hujan mulai mereda. Jalan Damai kembali bernapas. Aku menutup buku catatan dengan rasa syukur yang sederhana. Ternyata, menyendiri di awal tahun bukanlah kesepian. Ia adalah pertemuan paling jujur dengan diri sendiri, dengan tujuan, dan dengan harapan. Di hari pertama 2026, di bawah hujan Jogja, aku belajar bahwa kebaikan tak selalu menunggu cuaca cerah—ia tumbuh justru ketika kita memilih tetap bergerak, setia pada niat, dan percaya bahwa setiap langkah kecil bernilai pahala.

Hujan yang semula hanya menjadi latar, perlahan berubah menjadi guru yang sabar. Ia mengajarkan bahwa rencana manusia sering kali tak pernah benar-benar lurus. Ada belokan, ada jeda, ada penundaan yang justru menyimpan makna. Di antara denting sendok yang sesekali beradu dengan cangkir, aku kembali menata fokus. Laptop terbuka, ponsel bergetar oleh beberapa pesan masuk—sebagian tentang pekerjaan, sebagian tentang urusan sosial yang tak pernah benar-benar libur, bahkan di hari pertama tahun baru.

lampu mulai menyala karena hujan deras

Aku tersenyum kecil. Tahun berganti, tetapi panggilan untuk berbuat baik tetap sama. Justru di momen seperti inilah, ketika kebanyakan orang memilih bersenang-senang, aku merasa diberi ruang untuk menata ulang niat. Ada laporan yang harus dirapikan, ada gagasan yang harus dirumuskan lebih matang, ada langkah-langkah kecil untuk kegiatan sosial yang kelak akan menyentuh banyak hati. Semua itu terasa lebih khusyuk ketika dikerjakan dalam sunyi.

Di balik kaca jendela, hujan menciptakan garis-garis tak beraturan. Orang-orang berlalu lalang dengan jas hujan, sebagian tergesa, sebagian pasrah. Aku belajar dari mereka: hidup memang berjalan dengan ritmenya sendiri. Tak perlu selalu memaksa cepat, asal tetap bergerak. Maka satu per satu, target kecil kuselesaikan. Tak sempurna, tetapi cukup untuk hari ini. Progres itu sederhana, namun nyata—dan dari situlah keyakinan tumbuh.

Ada momen ketika lelah menyapa. Bukan lelah fisik, melainkan lelah batin yang sering datang pada mereka yang memilih jalan pengabdian. Namun di saat yang sama, muncul kesadaran lain: bahwa setiap niat baik yang dijaga, sekecil apa pun, tak akan sia-sia. Dalam keyakinan itu, pekerjaan sosial menjelma ibadah. Keshalehan tak lagi sebatas ritual personal, tetapi menjelma aksi yang direncanakan dengan sungguh-sungguh, dikerjakan dengan jujur, dan dipersembahkan untuk kemaslahatan.

Kopi yang kuminum mulai dingin, tetapi semangat justru menghangat. Aku menulis ulang beberapa catatan, memperbaiki diksi, menyederhanakan rencana agar lebih membumi. Tahun 2026 terasa seperti lembar kosong yang luas—dan hari ini, di kafe kecil wilayah Jalan Damai, aku mulai mengisinya dengan tinta kesabaran.

Menjelang sore, hujan menyisakan gerimis tipis. Langit Jogja memantulkan warna abu-abu yang lembut. Aku menatap keluar sekali lagi, menarik napas panjang. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan: syukur karena diberi waktu untuk berhenti sejenak, syukur karena tetap diberi kemampuan melangkah meski perlahan, syukur karena jalan pengabdian ini—betapapun sunyinya—masih kupilih dengan sadar.

Hari itu kututup dengan doa dalam diam. Semoga setiap usaha yang dikerjakan hari ini, meski tak disaksikan banyak orang, dicatat sebagai kebaikan. Semoga hujan yang mengguyur Jogja menjadi saksi bahwa di awal tahun 2026, ada seseorang yang memilih menyendiri bukan untuk menjauh, melainkan untuk mendekat—kepada tujuan hidup, kepada nilai-nilai keshalehan sosial, dan kepada harapan bahwa kebaikan, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya sendiri.

Pancaran lampu yang sangat bercahaya


Posting Komentar

0 Komentar