![]() |
(QS. Ar-Ra’d: 11) |
Pergantian tahun sering kali dirayakan dengan gegap gempita. Kembang api menghiasi langit, resolusi ditulis dengan penuh harap, namun tak sedikit yang lupa bahwa tahun baru sejatinya bukan soal angka, melainkan kesadaran untuk berubah. Tahun 2026 datang bukan sebagai hadiah, melainkan sebagai amanah—apakah kita akan melanjutkan kebiasaan lama, atau memulai lompatan baru dalam hidup.
Di tengah tekanan ekonomi, ketidakpastian sosial, dan kelelahan batin yang dialami banyak orang, refleksi menjadi kebutuhan mendesak. Kita hidup di zaman yang serba cepat, tetapi sering kehilangan arah. Banyak yang bekerja keras, namun tidak merasa cukup. Banyak yang berjuang, tetapi kehilangan makna.
Al-Qur’an memberikan penegasan yang sangat relevan dengan kondisi ini:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”(QS. Ar-Ra’d: 11)
Ayat ini bukan sekadar penghiburan, melainkan peringatan sekaligus motivasi. Perubahan tidak datang dari luar—bukan dari sistem, bukan dari situasi, apalagi dari orang lain—melainkan dari niat, sikap, dan konsistensi diri.
Perubahan Mentalitas sebagai Kunci
Banyak kegagalan hidup bukan disebabkan kurangnya kemampuan, tetapi karena mentalitas yang rapuh: mudah menyerah, gemar mengeluh, dan sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Tahun 2026 seharusnya menjadi momentum untuk mengubah cara pandang tersebut.
Kita perlu berpindah dari mental “menunggu keadaan membaik” menuju mental ikhtiar dan tawakal. Islam tidak mengajarkan pasrah tanpa usaha, tetapi juga tidak membenarkan ambisi tanpa keimanan. Keseimbangan inilah yang kerap hilang dalam kehidupan modern.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki: pagi hari lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”(HR. Tirmidzi)
Burung tidak menunggu makanan jatuh dari langit. Ia terbang, berusaha, lalu bertawakal. Inilah filosofi hidup yang patut kita bawa ke tahun 2026.
Rezeki, Etika, dan Kesabaran Sosial
Isu rezeki masih menjadi kegelisahan utama masyarakat. Namun sering kali rezeki dipahami secara sempit—sebatas uang dan materi. Padahal dalam perspektif Islam, rezeki mencakup ketenangan, kesehatan, keluarga, dan kesempatan berbuat baik.
Allah telah menjamin rezeki setiap hamba-Nya, tetapi juga mengaitkannya dengan ketakwaan dan etika hidup:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”(QS. At-Talaq: 2–3)
Tahun 2026 seharusnya menjadi titik balik untuk menata ulang cara mencari rezeki: lebih jujur, lebih beradab, dan lebih peduli dampaknya bagi orang lain. Rezeki yang berkah tidak selalu besar, tetapi menumbuhkan kebaikan dan ketenangan.
Membangun Makna di Tengah Tantangan
Di tengah krisis kepercayaan, polarisasi sosial, dan individualisme yang kian menguat, masyarakat membutuhkan lebih banyak figur dan warga yang hidupnya bermakna, bukan sekadar berhasil secara pribadi.
Rasulullah ﷺ mengingatkan:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”(HR. Ahmad)
Makna hidup tidak diukur dari seberapa tinggi jabatan atau seberapa tebal rekening, tetapi seberapa besar kontribusi kita bagi lingkungan sekitar. Tahun 2026 harus menjadi tahun memperkuat solidaritas, kepedulian sosial, dan keberanian untuk tetap jujur di tengah godaan pragmatisme.
Penutup: Harapan yang Realistis dan Berakar Nilai
Harapan tanpa usaha adalah ilusi. Usaha tanpa nilai adalah kelelahan. Tahun 2026 menuntut keduanya berjalan beriringan: kerja keras yang jujur dan iman yang kokoh.
Kita boleh lelah, tetapi tidak boleh putus asa. Kita boleh lambat, tetapi jangan berhenti. Sebab selama masih bernapas, selalu ada ruang untuk berubah dan bertumbuh.
Allah menegaskan:
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”(QS. Al-Ankabut: 69)
Semoga 2026 menjadi tahun kebangkitan kesadaran—bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan, tetapi tentang menjadi lebih baik, lebih bermakna, dan lebih berkah.
Latif Safruddin

0 Komentar