![]() |
| BISMILLLAH SEMOGA ALLAH BERIKAN KEMUDAHAN |
Tiga puluh satu hari lagi, bulan yang paling dirindukan umat Islam akan kembali menyapa. Bulan yang tidak hanya mengajarkan kita menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengajak jiwa untuk kembali pulang kepada fitrah. Ramadan hadir sebagai tamu agung, membawa cahaya keimanan, ketenangan batin, serta harapan baru bagi setiap insan yang merindukannya.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa puasa bukan sekadar ritual tahunan, melainkan jalan menuju takwa. Takwa yang lahir dari kesabaran, kejujuran, kepedulian, dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
Di desa, puasa memiliki makna yang jauh lebih dalam. Suasana Ramadan di desa selalu menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di hiruk-pikuk kota. Pagi hari dimulai dengan udara segar, suara ayam berkokok, dan langkah-langkah warga yang saling menyapa. Menjelang subuh, mushola dan masjid hidup dengan lantunan doa dan shalat berjamaah. Kebersamaan itu bukan sekadar tradisi, tetapi warisan nilai yang terus dijaga lintas generasi.
Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi penguat semangat bahwa setiap lapar dan dahaga yang kita tahan, setiap hawa nafsu yang kita kendalikan, semuanya bernilai ibadah jika dilandasi iman dan keikhlasan.
Puasa di desa juga mengajarkan arti gotong royong dan kepedulian sosial. Ada kebiasaan berbagi takjil, membagikan makanan kepada tetangga, serta saling membantu menyiapkan sahur dan buka puasa. Anak-anak berlarian menunggu waktu maghrib, orang tua duduk di teras rumah sambil berdzikir, dan pemuda menghidupkan masjid dengan tadarus Al-Qur’an. Semua menyatu dalam harmoni sederhana namun penuh makna.
Allah SWT kembali menegaskan keutamaan Ramadan:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang benar dan yang batil).”(QS. Al-Baqarah: 185)
Di desa, Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dihidupkan. Nilai-nilainya tercermin dalam sikap saling menghormati, kejujuran dalam bekerja, serta kesederhanaan dalam menjalani hidup. Ramadan menjadi momentum memperbaiki hubungan dengan Allah, sekaligus mempererat hubungan antar sesama manusia.
Rasulullah SAW juga bersabda:
“Puasa itu perisai. Maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh.”(HR. Bukhari)
Perisai ini terasa nyata dalam kehidupan desa. Puasa menahan emosi, menjaga lisan, dan menumbuhkan kesabaran saat menghadapi perbedaan. Desa menjadi ruang belajar yang nyata tentang bagaimana Islam dipraktikkan secara membumi, sederhana, dan penuh kasih.
Tiga puluh satu hari lagi, Ramadan akan mengetuk pintu hati kita. Sudahkah kita menyiapkan diri? Menyiapkan hati untuk memaafkan, menyiapkan amal untuk diperbanyak, dan menyiapkan desa sebagai ruang ibadah yang hidup dan bermakna.
Karena sejatinya, sehebat apa pun kita melangkah di dunia, kita selalu berangkat dari desa. Dan di bulan Ramadan, desa kembali mengajarkan kita arti pulang: pulang kepada Allah, pulang kepada nilai-nilai kebaikan, dan pulang kepada kemanusiaan yang sejati.
Semoga kita dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan sehat, iman yang kuat, dan hati yang siap menerima cahaya-Nya. Aamiin. 🌙✨

0 Komentar