PISGOR KESUKAAN


PISGOR DIBALUT DENGAN TEPUNG DAN SUSU PUTIH DAN MESES

Sejak kecil, di sebuah desa yang pagi harinya selalu dibuka oleh suara ayam berkokok dan semilir angin sawah, pisang sudah menjadi bagian dari hidup saya. Bukan sekadar buah, pisang adalah kenangan, adalah rasa yang tumbuh bersama waktu. Di desa, pisang tak pernah dianggap makanan mewah, justru di situlah letak keistimewaannya—ia selalu ada, setia menemani masa kecil yang sederhana namun penuh cerita.

Saya ingat betul, bagaimana pohon-pohon pisang berdiri di belakang rumah, di tepi kebun, atau di sudut pekarangan tetangga. Daunnya lebar, batangnya kokoh, seolah mengajarkan keteguhan hidup sejak dini. Ketika buahnya matang, ibu atau nenek akan memetiknya dengan hati-hati. Sebagian dimakan langsung, sebagian lagi diolah—digoreng, direbus, atau sekadar dibakar di atas tungku kayu. Dari dapur desa yang sederhana itulah aroma pisang goreng menyebar, memanggil anak-anak pulang dari bermain.

Pisang goreng adalah makanan favorit saya sejak kecil. Rasanya bukan hanya manis, tapi hangat—hangat oleh minyak yang masih baru, hangat oleh tangan ibu yang memasaknya, dan hangat oleh suasana rumah yang penuh kebersamaan. Di sore hari, pisang goreng disajikan di atas piring sederhana, ditemani teh atau kopi tubruk. Kami duduk di teras rumah, kaki berdebu, baju penuh keringat, namun hati terasa utuh dan bahagia.

Di desa, pisang mengajarkan saya tentang kesederhanaan dan rasa syukur. Ia tumbuh tanpa banyak perawatan, berbuah tanpa menuntut pujian. Seperti kehidupan desa itu sendiri—sunyi, bersahaja, namun kaya makna. Hingga hari ini, ketika pisang disajikan dengan taburan cokelat dan lelehan susu di atas meja putih, ingatan saya tetap kembali ke tanah desa: ke dapur kayu, ke tungku sederhana, ke tawa masa kecil yang jujur.

Bagi saya, pisang bukan sekadar makanan favorit. Ia adalah pengikat kenangan, saksi tumbuhnya mimpi, dan pengingat bahwa kebahagiaan sejati sering lahir dari hal-hal paling sederhana. Dari desa, dari rumah, dari pisang yang sejak kecil setia menemani perjalanan hidup saya.

Di atas meja putih yang bersih dan tenang itu, tersaji sebuah pemandangan sederhana namun sarat makna. Sepiring pisang goreng hangat terhampar apa adanya—teksturnya lembut, sedikit hancur, seolah baru saja disusun tanpa banyak rekayasa. Lelehan susu kental manis mengalir pelan di sela-sela potongan pisang, berpadu dengan taburan meses cokelat yang memberi aksen manis dan nostalgia. Ini bukan sekadar hidangan, melainkan cerita tentang jeda, tentang waktu yang sengaja dilambatkan.

Di sampingnya, secangkir kopi hitam mengepul pelan. Warnanya pekat, aromanya tegas—sebuah ajakan untuk berhenti sejenak dari riuh pikiran. Kopi itu seperti sahabat lama yang tak banyak bicara, namun selalu hadir di saat yang tepat. Ia tak membutuhkan gula berlebihan, karena kepahitannya justru menjadi pengingat bahwa hidup tak selalu manis, dan di situlah kita belajar menikmati.

Tak jauh dari sana, semangkuk buah-buahan tersusun rapi. Pisang, jeruk, dan anggur seolah menjadi penyeimbang—segar, jujur, dan apa adanya. Buah-buah itu bercerita tentang alam yang memberi tanpa pamrih, tentang kesederhanaan yang sering kita lupakan di tengah kesibukan mengejar banyak hal. Ada harmoni yang diam-diam bekerja: manisnya pisang goreng, pahitnya kopi, segarnya buah—semuanya bertemu dalam satu meja, satu momen.

Tisu putih terlipat rapi, pisau dan garpu berpegangan hitam diletakkan sejajar. Detail kecil yang sering luput dari perhatian, namun justru menunjukkan kesiapan. Kesiapan untuk menikmati, kesiapan untuk membersihkan sisa, kesiapan untuk melanjutkan perjalanan setelah jeda ini usai. Tak ada kemewahan berlebihan, hanya ketertiban yang menenangkan.

Bayangkan momen ini terjadi di pagi yang sunyi atau sore yang teduh. Cahaya masuk lembut, pikiran perlahan jinak. Di hadapan hidangan sederhana ini, seseorang duduk, menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil. Bukan karena hidupnya tanpa masalah, tetapi karena ia memilih bersyukur atas hal-hal kecil yang nyata. Sepiring pisang goreng, secangkir kopi hitam, dan buah-buahan segar—cukup untuk mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali tak perlu dicari jauh-jauh.

Cerita ini tentang kita semua. Tentang bagaimana meja putih itu menjadi ruang pertemuan antara lelah dan harapan. Tentang bagaimana rasa sederhana mampu mengikat kenangan, memanggil pulang ingatan masa lalu, dan menumbuhkan semangat baru. Dan ketika suapan terakhir habis, kopi tinggal ampas, kita bangkit dengan hati yang sedikit lebih ringan—siap melangkah lagi, membawa ketenangan dari momen kecil yang bermakna besar.

Posting Komentar

0 Komentar