NASINYA KASIH BANYAK SOALE BELUM MAKAN SUDAH TIDAK PUNYA UANG


Jam sudah lewat pukul 11 malam. Kota tidak benar-benar tidur, tapi juga tidak sepenuhnya terjaga. Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang mulai lengang, dan di kamar kos yang sempit, suara paling nyaring justru datang dari bunyi notifikasi ShopeeFood—lebih dari 50 kali berbunyi malam itu. Bukan karena pesta, bukan karena banyak uang, melainkan karena lapar yang ditunda terlalu lama.

Di layar ponsel, tertulis sebuah catatan pesanan—sederhana tapi terasa berat saat dibaca ulang:

“Tolong nasinya dibanyakin banget, dan pedas jangan terlalu. Kalau boleh minta tempe goreng dan kerupuk, dan juga es teh. Saya belum makan dan gak punya uang lagi, tolong.”

Kalimat itu terlihat lugas, bahkan bagi sebagian orang mungkin terdengar “sok” atau berlebihan. Tapi hanya yang pernah berada di titik itu yang tahu: itu bukan drama, itu kejujuran paling telanjang. Menulis kalimat “belum makan” bukan untuk mencari iba, melainkan karena tubuh sudah terlalu jujur memberi sinyal—perut kosong, kepala ringan, dan dada terasa aneh.

Malam itu, menunggu driver datang rasanya seperti menunggu subuh. Setiap detik berjalan lambat. Setiap bunyi notifikasi membuat jantung sedikit berdegup: sudah diambil belum? masih di jalan? Lapar membuat pikiran ke mana-mana, dan tanpa disadari, ingatan melompat jauh ke masa kuliah.

Aku pernah berada di sana.
Masa ketika anggaran dari orang tua sangat minim, bukan karena mereka tak sayang, tapi karena memang hidup sedang sempit. Ada hari-hari di mana uang di dompet tinggal recehan, dan itu harus dipilih: makan atau fotokopi tugas. Ada hari-hari di mana memilih tidak makan terasa lebih masuk akal daripada menambah beban pikiran.

Pernah, sungguh pernah, aku tidak makan seharian penuh. Bukan karena diet, bukan karena gaya hidup, tapi karena tidak ada uang sama sekali. Lalu aku berdamai dengan keadaan dengan satu cara yang kupahami saat itu: puasa Senin–Kamis. Awalnya diniatkan ibadah, tapi diam-diam ada alasan lain yang tak berani diucapkan—agar perut tidak menuntut.

Puasa itu menjadi jalan tengah antara iman dan keterpaksaan.
Di siang hari menahan lapar, di malam hari menahan gengsi. Saat teman-teman makan bersama, aku memilih pulang lebih dulu. Saat diajak jajan, aku tersenyum dan bilang, “nanti saja”, padahal aku tahu tidak ada “nanti” untuk dompetku.

Dan anehnya, dari situ aku belajar banyak.
Tentang rendah hati, tentang bersyukur pada sepiring nasi, tentang tidak mudah menghakimi orang hanya dari satu kalimat.

Karena sekarang aku tahu, kalimat di catatan pesanan itu—“belum makan”—bukan kalimat murahan. Itu adalah pengakuan diam-diam dari seseorang yang sedang berjuang. Bisa jadi dia mahasiswa, pekerja harian, atau siapa pun yang hari itu kalah oleh keadaan tapi tetap memilih makan dengan jujur, bukan mencuri, bukan memaksa.

Ketika akhirnya pesanan datang, mungkin hanya nasi goreng sederhana, tempe goreng, kerupuk, dan es teh. Tapi di balik itu, ada rasa lega yang sulit dijelaskan. Bukan cuma karena kenyang, tapi karena masih bisa bertahan satu malam lagi.

Jam 11 malam mengajarkan satu hal penting:
Bahwa hidup tidak selalu tentang pamer kuat, tapi tentang mengakui lemah lalu tetap melangkah. Bahwa puasa, lapar, dan keterbatasan bukan aib—mereka adalah guru yang keras tapi jujur.

Dan sampai hari ini, setiap kali mendengar bunyi ShopeeFood di malam hari, aku selalu ingat satu masa:
masa ketika aku pernah tidak makan, bukan karena pilihan, tapi karena keadaan—dan dari sanalah aku belajar arti cukup, sabar, dan berharap.


Posting Komentar

0 Komentar