![]() |
| PINTU DEPAN UNTUK MASUK DI SMK MUHAMAMDIYAH KELING |
SMK Muhammadiyah Keling dan Pergulatan Batin Seorang Anak Desa
Awal Sebuah Pilihan yang Tidak Pernah Benar-benar Bebas**
Saya masih ingat betul masa itu. Tahun-tahun ketika lulus dari SMP Keling bukan sekadar penanda kelulusan, tetapi juga awal dari pergulatan batin yang panjang. Di usia yang seharusnya diisi dengan kegembiraan memilih sekolah lanjutan, saya justru berhadapan dengan kenyataan sederhana namun berat: sekolah tidak usah jauh-jauh. Begitu kata ibu. Tidak ke luar desa, tidak ke luar kota.
Pilihan saya kala itu hanya dua: SMU Islam Kelet—yang kini dikenal sebagai Wikrama—dan SMK Muhammadiyah Keling, sebuah sekolah yang saat itu masih sangat muda, bahkan baru saja meluluskan angkatan pertamanya. Di sisi lain, ada SMU Negeri Keling yang bertempat di Tulakan, namun pilihan itu langsung gugur sebelum sempat dipertimbangkan. Ancaman dan larangan telah lebih dulu menutup pintu.
Saya lahir dan besar di lingkungan keluarga Nahdlatul Ulama. Hampir seluruh keluarga, baik di Kelet maupun di luar desa, adalah para aparatur, kiai, dan aktivis NU. Tradisi, amaliyah, dan nilai-nilai NU bukan sekadar ajaran—ia adalah napas hidup di rumah kami. Dari tahlilan, yasinan, hingga manaqiban, semuanya mengalir sebagai rutinitas yang sakral.
Ketika pilihan mengarah ke SMK Muhammadiyah Keling, kegamangan itu mulai terasa. Bukan karena sekolahnya, tetapi karena bayang-bayang perbedaan yang sudah lebih dulu ditanamkan. Ibu bahkan berkata dengan nada tegas namun jujur,
“Kalau kamu pilih SMK Muhammadiyah Keling, uang saku cari sendiri.”
Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat hati seorang anak desa bergetar. Di satu sisi ada ketaatan pada orang tua dan tradisi keluarga, di sisi lain ada rasa ingin tahu, keberanian mencoba, dan takdir yang seperti mendorong ke arah yang belum pernah saya kenal.
Akhirnya, saya melangkah. Dengan segala keterbatasan dan tekad seadanya, saya resmi menjadi bagian dari SMK Muhammadiyah Keling.
Menjadi Minoritas dalam Diri Sendiri**
Hari-hari pertama di SMK Muhammadiyah Keling bukanlah hari yang mudah. Saya merasa seperti berdiri di dua dunia yang berbeda. Di sekolah, saya berhadapan dengan lingkungan Muhammadiyah yang tegas, rasional, dan berlandaskan pemurnian ajaran. Di rumah, saya tetap menjadi anak NU yang wajib menjalani tradisi tanpa tawar-menawar.
Di sekolah, saya tumbuh cepat. Bukan karena saya paling pandai, tetapi karena keadaan menuntut saya untuk aktif. Saya dipercaya menjadi bagian dari OSIS, Pramuka, dan IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah). Aktivitas demi aktivitas saya jalani dengan penuh kesungguhan. Rapat, kegiatan lapangan, pengkaderan, hingga diskusi ideologis menjadi makanan harian.
Namun setiap kali pulang ke rumah, ada bagian dari diri saya yang harus kembali menyesuaikan. Sarung, peci, doa-doa khas NU, dan tradisi keluarga tetap harus dijalani. Tidak ada ruang untuk berdebat. Semua sudah mapan, turun-temurun, dan sakral.
Saya belajar diam. Tidak banyak bicara. Tidak berani membuka diskusi ideologis dengan ibu dan keluarga. Ketakutan akan kekecewaan orang tua jauh lebih besar daripada keberanian untuk menjelaskan.
Seorang Guru, Sebuah Cahaya**
Di tengah kegamangan itulah saya bertemu dengan seorang guru yang kelak menjadi penanda penting dalam perjalanan batin saya. Namanya Pak Masykur, seorang guru dari Klaten. Beliau bukan guru yang keras dalam suara, tetapi tegas dalam ilmu. Cara beliau mengajar Al-Qur’an dan Hadis sangat berbeda dari yang pernah saya temui sebelumnya.
Ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dijelaskan dengan konteks. Hadis-hadis tidak sekadar dihafal, tetapi dikaitkan dengan realitas hidup. Tidak ada caci maki terhadap tradisi, tidak pula penghakiman terhadap perbedaan. Yang ada hanyalah ajakan berpikir, memahami, dan bersikap jujur pada ilmu.
Bagi saya, beliau adalah penerang. Namun ironisnya, saya justru belum berani mendekat. Ada jarak yang saya ciptakan sendiri—jarak bernama takut. Takut jika kedekatan saya dengan beliau diketahui keluarga. Takut dicap “berubah”. Takut dianggap meninggalkan akar.
Saya memilih belajar dari kejauhan. Mendengarkan dengan saksama di kelas. Mencatat dengan rapi. Merenungkan dalam diam. Pak Masykur mungkin tidak pernah tahu bahwa pelajaran-pelajarannya telah menjadi penopang batin seorang siswa yang sedang berada di persimpangan.
Dari beliau saya belajar satu hal penting: Islam tidak harus membuat seseorang tercerabut dari keluarganya. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan dipahami dengan akal dan akhlak.
Belajar Berdamai dengan Perbedaan**
Waktu berjalan. Tahun-tahun di SMK Muhammadiyah Keling perlahan menempa saya. Aktivitas organisasi melatih kepemimpinan. Pramuka mengajarkan disiplin dan kemandirian. IPM membentuk cara berpikir kritis dan sistematis.
Sementara di rumah, tradisi NU tetap saya jalani. Awalnya terasa berat, tetapi lambat laun saya mulai menemukan maknanya. Saya sadar bahwa NU dan Muhammadiyah bukan dua kutub yang saling meniadakan. Keduanya adalah jalan pengabdian, dengan metode dan penekanan yang berbeda.
Pergulatan batin yang dulu membuat saya gelisah justru menjadi ruang pendewasaan. Saya belajar bahwa iman tidak selalu tumbuh dari kenyamanan, tetapi sering kali dari kegamangan yang dipeluk dengan jujur.
Saya tidak menjadi Muhammadiyah sepenuhnya, dan saya juga tidak meninggalkan NU. Saya menjadi diri saya sendiri—seorang anak desa yang belajar memahami perbedaan dari dalam, bukan dari prasangka.
Refleksi: Pendidikan, Ibu, dan Takdir**
Kini, ketika mengingat kembali masa itu, hati saya justru dipenuhi rasa syukur. Kepada ibu yang tegas namun penuh cinta. Kepada keluarga yang menjaga tradisi dengan setia. Kepada SMK Muhammadiyah Keling yang memberi ruang tumbuh. Dan kepada Pak Masykur, guru yang diam-diam menyalakan lentera di tengah gelapnya kebimbangan.
SMK Muhammadiyah Keling bukan sekadar tempat saya belajar kejuruan. Ia adalah ruang pembentukan karakter, ruang dialog batin, dan ruang perjumpaan dengan diri sendiri.
Dan hingga hari ini, saya percaya:
Seorang anak desa boleh lahir dari tradisi tertentu, tetapi ia berhak tumbuh dengan pemahaman yang luas dan hati yang lapang.


0 Komentar