DARI SUMATERA KE SLEMAN — Perjalanan Iman, Ilmu, dan Keteladanan

Latif Safruddin
Pegiat notoati, resikiati
Jamaah masjid nur falah

Di sudut pinggiran Sleman, di sebuah kampung yang tenang dan bersahaja, tinggal dua remaja sepupu: Ahmad dan Faris. Mereka datang jauh dari Sumatera, meninggalkan kampung halaman, keluarga besar, dan kenyamanan masa kecil — demi satu cita-cita: menuntut ilmu dan meraih masa depan.

Keduanya bersekolah di salah satu SMK di pinggiran Sleman. Bukan sekolah mewah, bukan pula fasilitas yang gemerlap. Namun bagi Ahmad dan Faris, sekolah itu adalah jembatan menuju mimpi.

🌅 Datang dengan Niat, Tinggal dengan Kesederhanaan

Mereka tinggal di rumah kontrakan sederhana bersama sang paman. Sosok yang bukan hanya keluarga, tetapi juga menjadi ayah, sahabat, sekaligus teladan hidup.

Pamannya adalah seorang pengusaha restoran kuliner di Sumatera. Di kampung halamannya, ia dikenal cukup berhasil. Namun ketika memutuskan ikut ke Sleman, ia meninggalkan kenyamanan usahanya. Bukan karena bisnis, bukan pula karena ambisi dunia.

Ia datang hanya untuk menemani dua anak ini belajar di Jogja.

Sebuah keputusan yang tidak ringan.

Dari dunia usaha yang mapan, kini hidup sederhana di tanah rantau. Rumah kontrakan kecil, perabot secukupnya, gaya hidup yang jauh dari kemewahan. Namun tidak pernah terdengar keluhan. Tidak pernah tampak penyesalan.

Yang ada justru ketenangan.

🕌 Hidup yang Dipagari Sholat Berjamaah

Setiap adzan berkumandang dari masjid kampung, langkah mereka hampir selalu terlihat menuju rumah Allah. Ahmad dan Faris rajin sholat berjamaah. Sang paman pun selalu membersamai.

Allah berfirman:

"Dan perintahkanlah keluargamu mendirikan sholat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya."
(QS. Thaha: 132)

Ayat itu seolah hidup dalam keluarga kecil ini.

Di tengah perjuangan ekonomi dan adaptasi hidup di perantauan, mereka menjaga satu hal yang tidak pernah ditinggalkan: kedisiplinan dalam ibadah.

Mereka memahami bahwa sukses bukan hanya soal nilai rapor atau ijazah, tetapi tentang bagaimana menjaga hubungan dengan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sholat berjamaah lebih utama daripada sholat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dan itu bukan sekadar hadits yang dibaca, tetapi diamalkan.

🤝 Paman yang Menjadi Ayah

Hubungan Ahmad dan Faris dengan pamannya bukan sekadar hubungan keluarga. Mereka sangat dekat, seakan menemukan figur ayah dalam dirinya.

Sang paman tidak hanya membiayai, tetapi mendidik. Tidak hanya menasihati, tetapi memberi contoh. Tidak hanya menyuruh, tetapi mengajak.

Di Sumatera ia seorang pengusaha. Di Sleman ia menjadi pendamping, penguat mental, penjaga iman dua anak yang sedang menata masa depan.

Beliau sering berkata bahwa keberadaannya di Sleman hanya satu alasan:
“Saya hanya ingin menemani mereka belajar dan memastikan mereka tumbuh dalam jalan yang benar.”

Sebuah kalimat sederhana, tapi sarat makna pengorbanan.

🌾 Pendidikan dan Pengorbanan

Sumatera ditinggalkan. Zona nyaman dilepas. Dunia usaha sementara dikesampingkan.

Semua demi pendidikan.

Karena mereka percaya firman Allah:

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat."
(QS. Al-Mujadilah: 11)

Ahmad dan Faris memahami bahwa ilmu adalah jalan perubahan. Namun ilmu tanpa iman bisa menyesatkan. Maka mereka menjaga keduanya berjalan beriringan.

Hidup sederhana bukan kelemahan. Justru itu latihan mental.
Kontrakan kecil bukan kehinaan. Itu tempat ditempanya kesabaran.
Perantauan bukan penderitaan. Itu adalah sekolah kehidupan.

✨ Pelajaran yang Bisa Kita Ambil

Dari kisah Ahmad dan Faris, kita belajar:

  1. Hijrah demi ilmu adalah kemuliaan.
  2. Orang tua atau wali yang mendampingi adalah anugerah tak ternilai.
  3. Kesederhanaan tidak menghalangi keberkahan.
  4. Sholat berjamaah adalah benteng di tanah rantau.
  5. Sukses dunia harus dibingkai dengan ketaatan pada Allah.

Di kampung kecil pinggiran Sleman itu, tidak ada sorotan kamera. Tidak ada panggung besar. Tetapi ada perjuangan yang luar biasa.

Perjuangan dua anak muda dari Sumatera yang ingin sukses.
Perjuangan seorang paman yang rela meninggalkan kenyamanan demi masa depan keponakannya.
Perjuangan keluarga kecil yang menjadikan masjid sebagai pusat kehidupan.

Dan mungkin, justru dari rumah kontrakan sederhana itulah, kelak lahir kesuksesan yang membanggakan.

Karena siapa yang menjaga Allah dalam hidupnya, maka Allah akan menjaga masa depannya.

🌿 Semoga Ahmad dan Faris menjadi generasi sukses, berilmu, berakhlak, dan tetap rendah hati.
Dan semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi kita semua bahwa keberkahan tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari ketaatan dan pengorbanan.

Posting Komentar

0 Komentar