Jumat, 20 Maret 2026 Muhammadiyah Idul Fitri: Antara Ramai Ramadan dan Sepi Setelahnya

 

LATIF SAFRUDDIN
OWNER DAPUR BAROKAH
OWNER JASA KELOLA MEDSOS
PENULIS BUKU NOTO ATI RESIKI ATI

Ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang menyejukkan. Masjid penuh, suara tadarus menggema, sedekah mengalir, dan masyarakat berbondong-bondong mendekat kepada Allah SWT. Bahkan tak sedikit yang beribadah seakan-akan itulah Ramadan terakhir dalam hidupnya. Namun pertanyaan besar muncul: setelah Idul Fitri, mau ke mana semua semangat itu?


Fenomena ini bukan hal baru. Setiap tahun, umat Islam berlomba-lomba dalam kebaikan selama Ramadan. Masjid yang biasanya lengang mendadak penuh, bahkan kegiatan sosial seperti buka bersama hingga makan besar di masjid menjadi tradisi yang semarak. Tapi ironisnya, suasana itu perlahan memudar setelah Lebaran. Masjid kembali sepi, ibadah mulai longgar, dan kebiasaan lama kembali muncul.


Padahal, dalam ajaran Islam, ukuran kebahagiaan dan keselamatan di akhirat tidak pernah ditentukan oleh status sosial. Kaya atau miskin bukan jaminan seseorang masuk surga. Begitu pula jabatan—entah itu rakyat biasa, tukang becak, pemulung, guru, PNS, hingga pejabat tinggi negara—tidak menjadi ukuran di hadapan Allah SWT.


Yang menjadi penentu hanyalah satu: ketakwaan.


Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Artinya, ukuran Allah bukan pada apa yang tampak di dunia, melainkan pada hati dan amal perbuatan seseorang. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta, tetapi melihat hati dan amal.


Dalam realitas kehidupan, kita sering menyaksikan orang sederhana dengan penghasilan pas-pasan justru memiliki hati yang bersih, sabar, dan dekat dengan Allah. Sebaliknya, tidak sedikit yang bergelimang harta namun lalai dalam ibadah dan sombong dalam kehidupan.


Namun demikian, bukan berarti orang miskin otomatis masuk surga, atau orang kaya pasti terhalang. Orang miskin bisa masuk surga karena kesabaran dan keikhlasannya. Sementara orang kaya pun bisa meraih surga jika hartanya digunakan di jalan Allah, gemar bersedekah, dan tetap rendah hati.


Begitu pula dengan para pemimpin dan pejabat. Jabatan bukanlah keistimewaan, melainkan amanah besar yang akan dimintai pertanggungjawaban. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin berat pula hisabnya di akhirat.


Ramadan sejatinya adalah madrasah, tempat melatih diri menjadi pribadi yang bertakwa. Menahan lapar bukan sekadar menahan fisik, tetapi melatih kesabaran. Menahan amarah bukan sekadar emosi, tetapi mengasah keikhlasan. Jika setelah Ramadan semua itu hilang, maka esensi Ramadan belum benar-benar tertanam.


Pertanyaan pentingnya bukan lagi siapa yang rajin saat Ramadan, tetapi siapa yang mampu istiqomah setelahnya.


Ciri orang bertakwa bukan hanya terlihat saat Ramadan, melainkan justru setelahnya. Ia tetap menjaga sholat, tetap gemar bersedekah, tetap menjauhi maksiat, dan tetap merasa diawasi Allah dalam setiap keadaan.


Idul Fitri bukanlah garis akhir, melainkan titik awal. Kemenangan bukan pada banyaknya ibadah selama Ramadan, tetapi pada kemampuan mempertahankannya di bulan-bulan berikutnya.


Ramadan boleh berlalu, tetapi Allah tetap ada. Masjid tidak hanya untuk satu bulan. Ibadah bukan hanya musiman.


Pada akhirnya, surga bukan milik orang kaya, bukan pula milik orang miskin. Surga adalah milik mereka yang bertakwa—mereka yang menjaga hubungannya dengan Allah, baik di saat ramai maupun sepi.


Dan di situlah letak ujian sesungguhnya: bukan saat semua orang beribadah, tetapi saat hanya sedikit yang tetap bertahan.

Posting Komentar

0 Komentar