
Oleh: Latif Safruddin
Penggagas Noto Ati Resiki Ati
Ramadhan selalu datang membawa pesan yang sama kepada manusia: meluruskan kembali arah hidup. Di tengah dunia modern yang penuh kompetisi, manusia sering terjebak dalam perlombaan yang tidak pernah selesai—perlombaan mengumpulkan harta, mengejar jabatan, dan memburu pengakuan dunia. Namun Ramadhan hadir seperti alarm spiritual yang mengingatkan bahwa kehidupan ini tidak berhenti di dunia.
Islam sejak awal telah memberikan prinsip yang sangat jelas: jika akhirat menjadi tujuan utama, dunia justru akan mengikuti. Sebaliknya, jika dunia dijadikan tujuan hidup, manusia akan kehilangan arah dan bahkan bisa kehilangan akhiratnya.
Al-Qur’an memberikan peringatan yang sangat tegas:
"Barang siapa yang menghendaki pahala akhirat, Kami akan tambahkan baginya pahala tersebut. Dan barang siapa yang menghendaki pahala dunia, Kami berikan kepadanya sebagian darinya, tetapi dia tidak mendapat bagian di akhirat."
(QS. Asy-Syura: 20)
Ayat ini menunjukkan dua orientasi kehidupan manusia. Pertama, mereka yang menjadikan akhirat sebagai tujuan hidup. Kedua, mereka yang hanya mengejar dunia. Al-Qur’an tidak melarang manusia bekerja, berdagang, atau menjadi kaya. Namun Islam menegaskan bahwa dunia harus menjadi alat menuju akhirat, bukan tujuan utama kehidupan.
Prinsip ini juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi:
"Barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, menyatukan urusannya, dan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk."
Hadis ini seolah menjelaskan fenomena yang sering kita lihat dalam kehidupan. Ada orang yang hidup sederhana tetapi hatinya tenang dan kehidupannya berkah. Sebaliknya, ada orang yang memiliki harta melimpah namun hidupnya tidak pernah merasa cukup.
Dalam sejarah Islam, kita menemukan banyak bukti nyata dari prinsip ini. Salah satunya adalah kisah sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf. Ketika hijrah dari Makkah ke Madinah, ia datang tanpa membawa harta. Bahkan ketika dipersaudarakan dengan seorang sahabat Anshar yang menawarkan setengah hartanya, Abdurrahman menolak dengan halus dan hanya meminta ditunjukkan tempat pasar.
Dengan kejujuran dan kerja kerasnya, ia kemudian menjadi salah satu sahabat terkaya. Namun kekayaannya tidak membuatnya tenggelam dalam dunia. Ia dikenal sangat dermawan dan sering menyumbangkan hartanya untuk perjuangan umat Islam. Ini menunjukkan bahwa ketika akhirat menjadi orientasi hidup, dunia justru datang mengikuti.
Kisah lain dapat kita lihat pada sosok Umar bin Khattab, khalifah kedua dalam sejarah Islam. Di masa kepemimpinannya, wilayah Islam berkembang sangat luas dan ekonomi umat mengalami kemajuan besar. Namun kehidupan pribadi Umar sangat sederhana. Bajunya sering bertambal dan ia sangat takut jika kekuasaan membuatnya lalai dari tanggung jawab di hadapan Allah.
Kepemimpinan yang berorientasi pada akhirat justru melahirkan keadilan dan kemakmuran dunia.
Ramadhan sebenarnya adalah latihan spiritual agar manusia mampu mengendalikan dunia, bukan diperbudak oleh dunia. Selama sebulan penuh, manusia belajar menahan makan, minum, dan hawa nafsu. Padahal semua itu adalah kebutuhan dasar manusia. Jika kebutuhan dasar saja bisa ditahan, maka seharusnya manusia juga mampu menahan keserakahan terhadap dunia.
Di sinilah Ramadhan mengajarkan satu pelajaran besar: menata hati dan membersihkan jiwa.
Dalam bahasa Jawa, pesan ini sering diungkapkan dengan kalimat sederhana namun sangat dalam maknanya: “Noto Ati, Resiki Ati.” Menata hati dan membersihkan hati.
Ketika hati sudah tertata, dunia tidak lagi menjadi tujuan utama. Harta menjadi sarana ibadah, pekerjaan menjadi ladang amal, dan kekuasaan menjadi amanah untuk menebar keadilan.
Al-Qur’an sebenarnya sudah memberikan rumus keseimbangan hidup yang sangat indah:
"Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia."
(QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini tidak mengajarkan manusia meninggalkan dunia, tetapi mengingatkan bahwa dunia hanyalah jalan menuju akhirat.
Ramadhan 1447 H seharusnya menjadi momentum refleksi bagi kita semua. Apakah selama ini hidup kita hanya sibuk mengejar dunia? Ataukah kita telah menjadikan dunia sebagai jalan untuk mendekat kepada Allah?
Sejarah telah membuktikan satu hal: orang yang mengejar dunia belum tentu mendapatkan akhirat. Namun orang yang mengejar akhirat sering mendapatkan dunia sekaligus.
Karena itu, pesan Ramadhan sangat sederhana namun sangat mendalam:
kejarlah akhiratmu, maka dunia akan mengikutimu.
Dan semua itu bermula dari satu hal yang sering kita lupakan: menata hati dan membersihkan jiwa.
0 Komentar