URIP KUWI SANANG SINAWANG

 

LATIF SAFRUDDIN
OWNER DAPUR BAROKAH
RELAWAN RESIK RESIK MASJID [R3M]

Di sudut kampung yang mungkin tak banyak orang luar kenal, ada sosok sederhana yang diam-diam menjadi cahaya bagi sekitarnya. Bukan pejabat, bukan orang yang sering tampil di panggung besar, tapi kehadirannya selalu dirasakan. Saya biasa memanggilnya “Pak Guru”—bukan sekadar karena profesinya sebagai guru agama di salah satu SMA favorit di Sleman, tapi karena setiap sikap hidupnya benar-benar menjadi pelajaran.

Beliau alumni UII Fakultas Agama Islam tahun 1996. Perjalanan hidupnya tidak lurus dan mudah. Seperti banyak orang pada zamannya, beliau harus memulai dari bawah. Menjadi guru honorer dengan penghasilan yang terbatas, menjalani hari demi hari dengan penuh kesabaran. Tidak sedikit orang mungkin akan menyerah di tengah jalan, mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan secara materi. Tapi tidak dengan beliau.

Selama kurang lebih 15 tahun, beliau bertahan. Mengabdi dengan ikhlas, mengajar dengan sepenuh hati, meski status belum jelas. Hingga akhirnya, penantian panjang itu terjawab—beliau diangkat menjadi PNS. Bagi sebagian orang, itu mungkin sekadar capaian administratif. Tapi bagi beliau, itu adalah buah dari kesabaran, ketekunan, dan keyakinan bahwa usaha yang baik tidak akan pernah sia-sia.

Namun yang membuat beliau istimewa bukan hanya kisah perjuangannya.

Pak Guru adalah sosok yang sangat mencintai kebersihan. Dalam hal ini, beliau bukan sekadar memberi nasihat, tapi benar-benar memberi contoh nyata. Motor Honda Kharisma miliknya—yang bagi orang lain mungkin sudah dianggap biasa—tetap terawat dengan sangat baik. Bersih, rapi, dan terjaga seperti baru. Mobilnya pun demikian. Bahkan lingkungan rumahnya, halaman, hingga hal-hal kecil yang sering luput dari perhatian orang lain, selalu beliau jaga.

Kalau melihat sesuatu yang kotor, beliau tidak banyak bicara. Tidak menyalahkan, tidak mengeluh. Tangannya langsung bergerak—membersihkan, merapikan, menata kembali. Dari situ saya belajar satu hal penting: bahwa kepedulian tidak butuh pengakuan, cukup diwujudkan dengan tindakan.

Dalam kehidupan bermasyarakat, beliau termasuk orang yang tidak pernah mengejar posisi. Tapi justru selalu dipercaya. Ketika ada kegiatan kampung—halal bihalal, Idul Qurban, pengajian, bahkan sampai menjadi khatib Jumat di berbagai masjid—namanya hampir selalu muncul. Bukan karena beliau meminta, tapi karena masyarakat melihat integritas dan keteladanannya.

Beliau hadir bukan sebagai tokoh yang ingin dihormati, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang siap melayani.

Yang paling saya ingat adalah petuah-petuah sederhana yang sering beliau sampaikan. Tidak rumit, tidak tinggi, tapi dalam maknanya.

“Urip kuwi sawang sinawang…” Hidup itu saling memandang. Apa yang kita anggap kurang, bisa jadi orang lain melihatnya sebagai kelebihan. Maka jangan mudah mengeluh, jangan mudah iri, karena setiap orang punya cerita dan ujian masing-masing.

Dan satu kalimat yang selalu beliau tekankan, terutama kepada para laki-laki: “Lelaki sejati, uripe berkah kuwi nek Subuh jamaah neng masjid.”

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi dalam sekali maknanya. Bahwa ukuran keberkahan hidup bukan sekadar pada harta, jabatan, atau pencapaian dunia, tapi pada kedekatan kita dengan Allah. Dimulai dari hal yang paling dasar—Subuh berjamaah.

Beliau juga tidak hanya berhenti pada nasihat. Jika ada yang belum terbiasa, beliau tidak menghakimi. Tapi mengajak. Pelan-pelan. Dengan pendekatan yang hangat.

“Yen durung iso, ya dilatih. Yen durung gelem, ya diajak.” Kalau belum bisa, dilatih. Kalau belum mau, diajak.

Ada kesabaran dalam membimbing. Ada kasih sayang dalam mengingatkan.

Dari Pak Guru, saya belajar bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling hebat, tapi siapa yang paling konsisten dalam kebaikan. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tapi siapa yang paling memberi dampak.

Beliau mengajarkan bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, kesabaran adalah kunci keberhasilan, dan keikhlasan adalah pondasi dari setiap amal. Bahwa menjadi manusia yang bermanfaat tidak harus menunggu menjadi besar—cukup mulai dari hal kecil, dari diri sendiri, dari lingkungan terdekat.

Beliau adalah bukti bahwa keteladanan tidak perlu panggung megah. Cukup dengan sikap sehari-hari.

Menjadi guru di kelas, sekaligus guru dalam kehidupan. Mengajar dengan lisan, sekaligus mendidik dengan perbuatan.

Dan dari sosok sederhana itu, saya memahami satu hal yang semakin jarang kita temui di zaman sekarang:

Bahwa orang yang benar-benar baik, biasanya tidak sibuk terlihat baik. Tapi sibuk menjalani kebaikan itu sendiri.

Semoga apa yang beliau jalani menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Dan semoga kita, yang melihat dan belajar darinya, bisa meniru meski hanya sedikit.

Karena sejatinya, perubahan besar dalam hidup… selalu dimulai dari keteladanan kecil yang dilakukan dengan istiqomah.

Posting Komentar

0 Komentar